Berita

400 Pelaku UMKM Palu Ikuti Pesta Wirausaha 2026, Dorong Transformasi dari Konvensional ke Digital

20
×

400 Pelaku UMKM Palu Ikuti Pesta Wirausaha 2026, Dorong Transformasi dari Konvensional ke Digital

Sebarkan artikel ini

Teras News — Ratusan pelaku usaha kecil di Kota Palu kini punya kesempatan memperkuat daya saing bisnis mereka lewat satu forum yang jarang ada di luar Jawa. Sekitar 400 peserta dari kalangan UMKM, komunitas bisnis, hingga anak muda mengikuti Pesta Wirausaha Palu (PWP) 2026 yang digelar Komunitas Tangan Di Atas (TDA) di Palu, Sabtu.

Bagi banyak peserta, forum semacam ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul. Ini ruang belajar yang selama ini mereka cari. Acara mengusung tema “Local to the Next Level” itu mengajak pelaku UMKM berpikir lebih jauh dari cara berdagang yang sudah bertahun-tahun mereka jalani.

Wakil Wali Kota: UMKM Terbukti Bertahan dari Bencana hingga Pandemi

Wakil Wali Kota Palu Imelda Liliana Muhiddin hadir langsung dalam kegiatan tersebut. Ia bicara bukan hanya sebagai pejabat, tapi juga dari pengalaman pribadi. “Saya berangkat dari seorang wirausahawan juga. Pengusaha UMKM adalah penggerak roda ekonomi. Saat Kota Palu mengalami bencana, para pelaku UMKM tetap eksis. Ketika pandemi COVID-19 melanda, UMKM juga mampu bertahan dan terus bergerak,” ujarnya.

Rekam jejak itu bukan klaim kosong. Imelda mengingatkan krisis ekonomi 1998 sebagai bukti nyata ketangguhan sektor ini ketika hampir semua lini ekonomi nasional kolaps. UMKM, menurutnya, justru menjadi penopang yang tidak goyah.

“Efeknya sangat positif untuk penguatan bisnis, supaya daya saing UMKM di Kota Palu semakin meningkat,” katanya.

Naik Kelas Butuh Lebih dari Sekadar Niat

Imelda mendorong pelaku UMKM untuk segera meninggalkan pola usaha lama. Transformasi ke model bisnis yang lebih modern bukan pilihan, melainkan keharusan di era sekarang.

“Di era kekinian sudah seharusnya usaha mikro naik level. UMKM yang naik kelas manfaatnya jauh lebih luas, tentu pendapatannya juga akan meningkat. Inovasi dan kerja keras menjadi dasar menuju keberhasilan, termasuk pemanfaatan teknologi,” ucap Imelda.

Soal kemasan, ia menyentil satu hal yang sering diabaikan pengusaha kecil. Produk bagus tidak cukup kalau tampilannya tidak meyakinkan. “Kadang orang melihat bukan hanya isi produknya, tetapi juga kemasannya. Artinya UMKM harus berani menembus pasar lebih luas,” tuturnya.

Legalitas juga masuk dalam daftar prioritas yang ia tekankan. Label halal dan izin usaha yang jelas disebut sebagai fondasi awal sebelum UMKM bisa melangkah ke pasar yang lebih besar.

Inkubator Bisnis Disiapkan Pemkot

Pemerintah Kota Palu tidak tinggal diam. Imelda menyebut pihaknya telah menyiapkan inkubator bisnis sebagai wadah pertemuan antara pelaku usaha dan pasar. Fasilitas ini dirancang untuk menjembatani gap yang selama ini jadi kendala utama UMKM lokal: produk ada, tapi akses ke pasar terbatas.

Komunitas TDA juga diminta turun tangan lebih konkret. Imelda meminta organisasi tersebut memberikan pendampingan langsung kepada para pelaku UMKM, mencakup aspek pengemasan produk, pemasaran, legalitas usaha, hingga pengembangan kapasitas bisnis secara menyeluruh.

Dengan ratusan peserta yang hadir dan dukungan pemerintah daerah, PWP 2026 menempatkan Palu sebagai salah satu kota di luar Pulau Jawa yang aktif membangun ekosistem wirausaha dari akar rumput.

Penulis: Rizky Pratama
Editor: Arif Budiman