Berita

19 Desember 1945: Otto Iskandar Dinata Diculik Laskar Hitam di Tangerang, Jasadnya Tak Pernah Ditemukan

7
×

19 Desember 1945: Otto Iskandar Dinata Diculik Laskar Hitam di Tangerang, Jasadnya Tak Pernah Ditemukan

Sebarkan artikel ini

Teras News — Tangerang, 19 Desember 1945. Seorang menteri negara dalam kabinet pertama Republik Indonesia lenyap diculik sekelompok orang bersenjata yang menamakan diri Laskar Hitam. Itu adalah hari terakhir Otto Iskandar Dinata terlihat hidup.

Wajahnya kini akrab di dompet jutaan orang Indonesia, tercetak pada uang pecahan Rp20 ribu. Namanya juga diabadikan menjadi nama jalan di berbagai kota. Namun di balik semua penghormatan itu, akhir hidup Otto berlangsung dalam kegelapan yang belum sepenuhnya terungkap hingga hari ini.

Menteri yang Ditugasi Membangun Militer di Tengah Kekacauan

Otto bukan sembarang tokoh. Dalam buku Si Jalak Harupat, Biografi Otto Iskandardinata (2003) disebutkan bahwa pada dekade 1920-an ia sudah aktif di organisasi Boedi Oetomo. Menjelang kemerdekaan, ia duduk sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno menunjuk Otto sebagai Menteri Negara. Tugasnya berat: membantu membentuk kekuatan militer nasional di tengah kondisi keamanan yang masih kacau. Kelompok bersenjata saat itu terdiri dari latar belakang yang sangat beragam, mulai dari eks anggota PETA dan Heiho bentukan Jepang hingga bekas prajurit KNIL peninggalan Belanda.

Perbedaan asal-usul itu memicu ego sektoral yang keras. Banyak kelompok menolak dilebur ke dalam satu komando. Sebagian bahkan bergerak sendiri, menentang pemerintah pusat dengan cara-cara kekerasan. Situasi ini yang akhirnya menempatkan Otto dalam posisi berbahaya.

Isu Mata-Mata Belanda yang Berujung Penculikan

Menurut Iip D. Yahya dalam buku Oto Iskandar di Nata: The Untold Stories (2017), penculikan Otto dipicu desas-desus yang disebarkan agen-agen Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Otto dituduh sebagai mata-mata Belanda. Isu itu diduga sengaja dihembuskan untuk menyingkirkan tokoh-tokoh yang dianggap menghambat persatuan Indonesia.

Di kalangan Laskar Hitam juga beredar kabar bahwa Otto menguasai uang satu juta gulden Belanda. Tuduhan ini memperkuat narasi bahwa Otto berpihak kepada musuh. Padahal, menurut Iip, uang tersebut berasal dari rampasan perang Jepang yang memang berbentuk gulden Belanda.

Pada 19 Desember 1945, Laskar Hitam menculik Otto di Tangerang dan membawanya ke kawasan pesisir Pantai Mauk. Sejak saat itu, ia menghilang.

Makam Simbolis Berisi Pasir dan Air Laut

Tidak ada kepastian mengenai nasib Otto. Ia diduga telah dibunuh dan jasadnya dibuang ke laut. Karena tidak pernah ada konfirmasi resmi soal kematiannya, pemerintah menetapkan 20 Desember 1945 sebagai tanggal wafat Otto Iskandar Dinata.

Tujuh tahun kemudian, sebuah pemakaman simbolis digelar di Bandung. Peti jenazah yang dikuburkan tidak berisi jasad Otto, melainkan hanya pasir dan air laut dari kawasan tempat ia terakhir diketahui berada.

Kisah Otto Iskandar Dinata menjadi pengingat bahwa masa-masa awal kemerdekaan Indonesia bukan hanya penuh heroisme, tetapi juga diwarnai intrik, fitnah, dan kekerasan yang merenggut nyawa salah satu tokoh terbaiknya.

Penulis: Ratna Dewi
Editor: Surya Dharma