Teras News — Pertandingan Elite Pro Academy (EPA) — kompetisi pembinaan pemain muda yang dioperasikan I-League — berujung memalukan. Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 berhadapan dengan Dewa United Banten FC U-20 di Stadion Citarum, Semarang, Minggu lalu, dan insiden yang melibatkan pemain timnas U-20 Indonesia, Fadly Alberto Hengga, memaksa Ketua Umum PSSI angkat bicara.
Erick Thohir, yang juga menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga, meminta I-League selaku operator kompetisi EPA Super League (kasta 1) dan Championship (kasta 2), serta seluruh klub peserta, untuk menegakkan sikap saling menghargai dan empati antar pemain. Permintaan itu ia sampaikan Rabu (28/5) lewat keterangan resmi PSSI.
Fadly Alberto Hengga dan Rakha Nurkholis Didamaikan Dua Klub
Dua pemain yang terlibat dalam insiden tersebut — Fadly Alberto Hengga dari Bhayangkara Presisi Lampung FC dan Rakha Nurkholis dari Dewa United Banten FC — akhirnya dipertemukan dan didamaikan oleh kedua klub masing-masing. Erick mengapresiasi inisiatif itu.
Baca Juga:
“Saya apresiasi karena kedua klub tetap menomorsatukan persatuan dan kesatuan sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Pancasila, bahwa meskipun kita berbeda-beda daerah, tapi kita semua ini berjuang bersama demi Indonesia. Ini harus menjadi pelajaran bagi pemain,” kata Erick.
PSSI: Rasisme Tidak Dibenarkan di Level Mana Pun
PSSI bersikap tegas. Organisasi induk sepak bola nasional itu tidak membenarkan segala bentuk ucapan, ungkapan, maupun perilaku rasisme — baik di kompetisi pembinaan usia muda maupun kompetisi profesional.
“FIFA dan PSSI tidak membenarkan segala bentuk ucapan dan ungkapan rasisme di sepak bola. Baik di kancah internasional dan juga nasional,” ujar Erick.
Bagi Erick, akar masalahnya bukan sekadar satu insiden. Kompetisi usia muda selama ini terlalu berfokus pada hasil pertandingan dan kemampuan teknis, sementara pembinaan karakter berjalan tidak seiring. Ia menekankan hal itu harus berubah.
“Kompetisi usia muda harus menjadi wadah tumbuhnya pemain yang lebih dewasa, matang, dan berkemampuan mumpuni. Karena itu, operator, klub, ofisial, dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan pembinaan karakter berjalan sekuat pembinaan teknik,” tegasnya.
Sosialisasi Anti-Rasisme di Seluruh Level EPA Akan Diperketat
Agar kasus serupa tidak terulang, PSSI meminta sosialisasi mengenai anti-rasisme, anti-kekerasan, toleransi, disiplin, kepatuhan terhadap aturan, dan penghormatan kepada wasit diperkuat secara konsisten di seluruh level EPA maupun kompetisi profesional. Pengawasan pertandingan juga akan diperketat.
“Sejak usia muda, pemain harus dibentuk dengan prinsip fair play, anti-rasisme, toleransi, disiplin, dan penghormatan kepada wasit. Prestasi tidak cukup hanya dengan skill. Prestasi harus ditopang karakter dan watak yang baik,” tambah Erick.
Setiap peristiwa yang mengandung unsur rasisme, menurut PSSI, harus disikapi serius, tegas, dan bertanggung jawab oleh semua pihak — mulai dari operator kompetisi hingga klub.
Dilansir dari laporan Antara.
Berita Terkait
Editor: Arif Budiman