Internasional

AS Gempur Pangkalan Rudal Iran di Sirik usai Kapal Kargo Diserang di Selat Hormuz

12
×

AS Gempur Pangkalan Rudal Iran di Sirik usai Kapal Kargo Diserang di Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini

Teras News — Jalur pelayaran tersibuk di dunia kembali memanas. Militer Amerika Serikat menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta situs radar pesisir pada 26 Juni, setelah sebuah kapal kargo diserang drone Iran di Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi rute ekspor minyak dunia terbesar.

Komando Pusat AS mengumumkan operasi udara itu sebagai respons langsung atas insiden pada 25 Juni, ketika pasukan Iran menyerang kapal kargo yang sedang berlayar di dekat pesisir Oman. Menurut laporan CNN International yang mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, operasi militer tersebut telah berakhir. Media pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi adanya serangan di pelabuhan Sirik, wilayah selatan Iran, setelah terdengar suara ledakan di lokasi itu.

Presiden AS Donald Trump langsung menuding Iran bertanggung jawab atas serangan kapal tersebut dan menyatakan tindakan itu melanggar perjanjian damai yang baru dicapai sepekan sebelumnya. Komando Pusat AS menegaskan posisinya secara ringkas: “Agresi yang tidak beralasan terhadap kapal komersial oleh pasukan Iran jelas melanggar gencatan senjata.”

Versi Iran berbeda. Sumber militer Iran yang dikutip media pemerintah menyebut bahwa sekitar lima jam sebelum serangan AS, pasukan mereka melepaskan beberapa tembakan peringatan dari Sirik ke arah kapal-kapal yang dianggap melanggar peraturan Selat Hormuz. Dua rudal peringatan juga diklaim diluncurkan dari wilayah Karpan di dekatnya.

Teheran sejak lama mengklaim posisi sebagai “penguasa” Selat Hormuz dan memperingatkan negara-negara Timur Tengah agar tidak berpihak kepada Washington. Iran bahkan menolak klaim AS dan enam negara Timur Tengah yang menyatakan Iran tidak berhak memungut biaya dari kapal-kapal yang melintas di selat itu. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyuarakan posisi itu secara terbuka melalui platform X.

“Pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz tidak dapat dijamin di bawah pengaturan yang ambigu, rute alternatif, atau pengambilan keputusan yang tidak memperhitungkan peran Iran sebagai negara pantai,” tulis Gharibabadi.

Militer AS menyatakan akan terus memberikan koordinasi dan dukungan bagi pelayaran kapal-kapal komersial yang melintas di selat tersebut. Bloomberg News melaporkan Oman telah memberi tahu sekutunya bahwa kapal-kapal yang melintasi Hormuz berpotensi terdampak situasi ini.

Di tengah eskalasi itu, ada satu perkembangan berbeda di bagian lain kawasan. Israel dan Lebanon menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri pertempuran antara pasukan Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Kesepakatan itu mensyaratkan Hizbullah melucuti senjata dan Israel menarik pasukannya dari Lebanon. Namun Hizbullah menyatakan tidak akan bekerja sama, dan belum ada kejelasan soal mekanisme penegakan perjanjian tersebut.

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Ratna Dewi