Teras News — Selat Hormuz, 25 Juni 2026 — Pasukan Garda Revolusi Iran menyerang sebuah kapal komersial berbendera Singapura di Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia dan menjadi nadi distribusi minyak dunia. Serangan ini dikonfirmasi pejabat Amerika Serikat pada 25 Juni 2026.
Proyektil yang menghantam kapal itu merusak parah sisi kanan anjungan. Kapal sedang berada di lepas pantai Dahit, Oman, saat insiden berlangsung. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris memastikan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan lingkungan yang tercatat pascaserangan.
Dampak paling cepat terasa di jalur evakuasi maritim internasional. Organisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah PBB langsung menghentikan sementara proyek evakuasi ribuan pelaut dan ratusan kapal yang sempat terdampar akibat konflik di Teluk Persia. Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, tidak memberi ruang untuk kompromi soal keselamatan awak kapal.
Baca Juga:
“Saya selalu menegaskan bahwa keselamatan para pelaut tetap menjadi yang utama. Oleh karena itu, rencana evakuasi akan dihentikan sementara sampai ada kejelasan lebih lanjut,” kata Dominguez.
IMO mengklarifikasi bahwa kapal Singapura itu berlayar secara mandiri dan berada di luar koridor evakuasi resmi PBB. Artinya, kapal tersebut bukan bagian dari konvoi yang dilindungi kesepakatan internasional mana pun.
Serangan ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah nota kesepahaman damai diteken, yang sempat mendongkrak kepercayaan pasar dan membuat harga minyak mentah dunia turun. Data firma analitik Kpler mencatat lonjakan arus pelayaran di selat itu dari 6 kapal menjadi 70 kapal hanya dalam sepekan, sebelum insiden ini kembali membekukan kepercayaan pelaku pelayaran global.
Di balik angka-angka itu, sengketa soal jalur pelayaran terus membara. Washington memilih rute yang berjarak dekat dengan garis pantai Oman demi keamanan. Tehran justru menuntut sebaliknya: semua kapal komersial asing wajib meminta izin kepada Iran dan berlayar mendekati wilayah pantai mereka.
Otoritas Selat Persia Iran bahkan mengeluarkan peringatan terbuka. “Setiap perlintasan melalui rute di luar kerangka kerja tidak akan dicakup oleh jaminan lintasan aman dan tidak berhak mendapatkan jaminan asuransi,” ancam pihak Iran dalam pernyataan resminya.
Iran juga membuka kemungkinan memungut biaya tol laut komersial setelah masa tenggang 60 hari berakhir, sebuah ketentuan yang langsung ditolak keras oleh pemerintahan Presiden Donald Trump beserta sekutu Arabnya karena dinilai bertentangan dengan hukum laut internasional.
Sebelum serangan ini terjadi, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sedang berada di Bahrain untuk memantau koridor energi Teluk. Rubio menegaskan bahwa Washington hanya akan menilai komitmen Iran dari tindakan nyata, bukan retorika. “Jika kapal-kapal bergerak sebagaimana mestinya, maka itulah yang akan kami nilai,” ujar Rubio.
Berita Terkait
Editor: Surya Dharma