Berita

Indeks PE/VC Indonesia 0,57, Riset APAC 2026 Sebut Tata Kelola Korporasi Jadi Ganjalan Utama Investor

7
×

Indeks PE/VC Indonesia 0,57, Riset APAC 2026 Sebut Tata Kelola Korporasi Jadi Ganjalan Utama Investor

Sebarkan artikel ini

Teras News — Investor ekuitas swasta dan modal ventura yang mengincar pasar Indonesia kini menghadapi hambatan nyata: banyak pelaku usaha skala menengah yang tumbuh pesat, tapi belum siap beroperasi secara institusional karena struktur kepemilikan yang didominasi hubungan keluarga dan pelaporan keuangan yang belum terstandarisasi.

Gambaran itu muncul dari riset bertajuk Vistra Friction Index: Turning Friction into Capital Flow APAC PE/VC Edition 2026, yang dipresentasikan dalam media briefing di Jakarta pada Rabu. Riset tersebut mengukur peluang investasi ekuitas swasta (Private Equity/PE) dan modal ventura (Venture Capital/VC), dua instrumen pendanaan yang lazim digunakan untuk menyuntik modal ke perusahaan yang belum tercatat di bursa saham, di kawasan Asia-Pasifik menggunakan skala 0 hingga 1.

Indonesia meraih skor 0,57 dalam indeks tersebut, menempatkannya dalam kelompok menengah ke bawah bersama Selandia Baru (0,59), Taiwan (0,58), Filipina (0,57), dan Thailand (0,55).

Head of Research DealStreetAsia Andi Haswidi, yang memaparkan hasil riset itu, menyoroti kondisi kelas menengah yang memengaruhi pola investasi. Pertumbuhan kelas menengah tidak sebesar dulu, bahkan sejumlah laporan menunjukkan adanya penurunan jumlahnya. Kondisi itu mendorong investor memfokuskan modal pada sektor-sektor dengan permintaan tinggi.

“Tentu saja ada peluang besar (untuk berinvestasi) dalam (sektor) inklusi keuangan. Lalu, ada juga kebutuhan yang sangat besar terhadap pelayanan kesehatan, logistik, transisi energi, dan sebagainya,” kata Andi.

Ia menegaskan skor 0,57 bukan cermin minimnya peluang, melainkan mencerminkan ekspektasi investor yang lebih terkendali. Indonesia tetap dianggap pasar terbesar di Asia Tenggara, dengan konsumsi yang terus meningkat, didorong populasi besar berusia relatif muda dibanding negara-negara ASEAN lainnya.

Tantangan tata kelola justru jadi perhatian utama para pelaku industri PE/VC. Founder & CEO Bintang Capital Partners Johan Rozali-Wathooth menggambarkan banyak bisnis keluarga di Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Filipina yang tumbuh cepat tapi masih beroperasi secara informal, dengan struktur kepemilikan yang terfragmentasi.

“Dalam hal ini, (investasi) ini bukan hanya tentang mempercayai narasi (ekonomi) makro, tetapi lebih tentang mempercayai rencana mikro dalam membangun bisnis tertentu,” ujar Johan.

Bagi mitra investasi yang punya kapabilitas operasional memadai, kata Johan, justru celah itulah yang bisa digarap sebagai peluang nyata.

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Surya Dharma