Internasional

Inspeksi Nuklir Iran Tetap Jalan, Bos IAEA Abaikan Keberatan Teheran

13
×

Inspeksi Nuklir Iran Tetap Jalan, Bos IAEA Abaikan Keberatan Teheran

Sebarkan artikel ini

Teras News — Ribuan warga Iran kini berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian diplomatik setelah perselisihan terbuka antara Teheran dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) soal izin inspeksi fasilitas nuklir mencuat ke publik pada 25 Juni 2026. Di tengah konflik klaim itu, Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi memastikan pemeriksaan tetap akan berlangsung — dengan atau tanpa restu dari pihak Iran.

Grossi berbicara tegas di konferensi pers yang digelar di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi, Jepang. Ia menolak bantahan Teheran yang menyebut tidak ada persetujuan inspeksi nuklir dalam nota kesepahaman yang ditandatangani Iran dan Amerika Serikat secara daring pekan lalu.

“Perjanjian tersebut secara eksplisit menyatakan kegiatan nuklir yang akan dilakukan terkait fasilitas material nuklir akan diawasi oleh IAEA sepenuhnya,” kata Grossi kepada wartawan. “Tentu saja, untuk itu, kami harus melakukan inspeksi. Apakah inspeksi dilakukan dalam dua hari, satu pekan, atau 10 hari ke depan memang penting, tetapi bukan hal yang esensial. Inspeksi tersebut akan tetap dilakukan.”

Pernyataan Grossi muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump pada 23 Juni menegaskan Iran akan mengizinkan inspektur nuklir memasuki wilayahnya, meski Teheran membantah klaim tersebut. Wakil Presiden AS J.D. Vance bahkan lebih dulu mengumumkan bahwa Iran sudah setuju mengizinkan inspektur IAEA kembali beroperasi di lapangan.

Nota kesepahaman yang memuat 14 poin itu menjadi dokumen paling ambisius dalam perundingan nuklir Iran dalam beberapa tahun terakhir. Isinya mencakup penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini — termasuk Lebanon —, pencabutan blokade angkatan laut terhadap Iran, serta jalur aman bagi kapal-kapal komersial melalui Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi rute ekspor minyak dunia.

Kesepakatan itu juga menjanjikan rencana rekonstruksi ekonomi untuk Iran senilai minimal 300 miliar dolar AS, pengecualian ekspor minyak, pelepasan aset Iran yang dibekukan, serta penegasan ulang dari Teheran bahwa mereka tidak akan mengembangkan senjata nuklir. Dokumen ini membuka jendela negosiasi selama 60 hari untuk menyelesaikan seluruh perselisihan yang tersisa.

Keaslian dan detail teknis implementasi kesepakatan ini belum diverifikasi secara independen oleh pihak ketiga yang netral.

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Arif Budiman