Teras News — Sedikitnya 11 orang tewas akibat serangan udara Israel ke wilayah Lebanon selatan pada Sabtu (20/6/2026), kurang dari sehari setelah gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah resmi diumumkan. Kesepakatan yang digadang-gadang sebagai jalan keluar dari konflik berbulan-bulan itu runtuh hampir seketika.
Jet tempur, drone, dan artileri Israel menyerang lebih dari selusin lokasi, sebagian besar terpusat di sekitar Kota Nabatieh. Kepulan asap tebal terlihat mengepul di berbagai penjuru Lebanon selatan menyusul serangan tersebut, seperti dilaporkan kantor berita resmi Lebanon.
Israel Klaim Serang “Target Teroris” setelah 50 Proyektil Ditembakkan
Militer Israel berdalih operasi itu dilakukan sebagai respons setelah Hizbullah menembakkan lebih dari 50 proyektil ke arah pasukan Israel yang masih berada di Lebanon selatan. Pihak Israel menyebut serangan tersebut diarahkan pada “target teroris Hizbullah.”
Baca Juga:
Hizbullah tidak berdiam diri. Pejabat senior kelompok itu, Hassan Fadlallah, menegaskan haknya untuk membalas sambil menyindir kondisi di lapangan.
“Yang mengkhawatirkan kami adalah bahwa musuh sepenuhnya dan secara menyeluruh menghormati gencatan senjata, dan tidak berupaya menyerang negara dan desa kami atau berusaha menduduki posisi baru apa pun,” kata Fadlallah, seperti dikutip Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA).
Washington Khawatir Konflik Lebanon Ganggu Kesepakatan dengan Iran
Pecahnya gencatan senjata ini memusingkan Washington. Amerika Serikat sebelumnya sudah mengkritik operasi militer Israel di Lebanon karena dinilai berisiko merusak kesepakatan yang lebih besar dengan Iran.
Kekhawatiran AS bukan tanpa alasan. Kesepakatan damai dengan Teheran mencakup komitmen untuk menghentikan pertempuran di berbagai front, termasuk Lebanon. Iran sendiri menegaskan bahwa situasi di Lebanon harus masuk sebagai bagian dari penyelesaian konflik secara menyeluruh.
Utusan khusus AS Steve Witkoff dilaporkan akan terbang ke Swiss untuk menggelar pembicaraan awal dengan Iran guna memperkuat implementasi kesepakatan tersebut.
Netanyahu Terjepit Tekanan Politik di Dalam Negeri
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan keras dari kubu politik dalam negeri untuk tidak menghentikan operasi militer terhadap Hizbullah. Kelompok bersenjata yang didukung Iran itu sebelumnya sudah memperingatkan: jika pasukan Israel tetap berada di Lebanon selatan, serangan akan kembali diintensifkan.
Konflik ini memanas kembali sejak awal Maret lalu ketika Hizbullah meluncurkan roket dan drone ke wilayah Israel sebagai pembalasan atas serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Israel membalas dengan kampanye pengeboman besar-besaran dan menduduki sekitar 5% wilayah Lebanon di bagian selatan.
Satu Juta Warga Lebanon Masih Mengungsi
Dampak kemanusiaan dari konflik ini terus menumpuk. Sekitar satu juta warga Lebanon masih terlantar dari rumah mereka. Puluhan komunitas di wilayah selatan dilaporkan hancur total akibat pertempuran yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Dengan gencatan senjata yang gagal bertahan bahkan dalam hitungan jam, masa depan perundingan diplomatik antara AS, Israel, dan Iran kini berada di persimpangan kritis. Pembicaraan lanjutan di Swiss yang akan dihadiri Witkoff menjadi salah satu ujung benang yang tersisa untuk mencegah konflik makin melebar.
Editor: Arif Budiman