Teras News — Rp1.100 triliun — itulah total kapitalisasi pasar gabungan bank-bank Himpunan Bank Negara (Himbara), setara 10 persen dari seluruh nilai perusahaan yang tercatat di pasar modal Indonesia. Angka itu diungkap Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, usai pertemuan jajaran komisaris dan direksi Himbara dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (19/6/2026).
Prabowo Terima Jajaran Himbara di Istana Merdeka
Pertemuan itu berlangsung atas inisiatif Presiden Prabowo yang memanggil seluruh jajaran pimpinan bank-bank negara. Kepada mereka, Presiden menyampaikan pesan tegas: bank pelat merah tidak boleh semata-mata mengejar untung. Manfaatnya harus terasa langsung oleh masyarakat luas, dari pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) hingga korporasi besar.
“Perbankan tidak semata-mata mengejar laba, tetapi juga harus dirasakan kehadirannya oleh masyarakat melalui pemberian kesempatan yang sama bagi semua lapisan,” ujar Rosan, menyampaikan pesan Presiden kepada wartawan.
Baca Juga:
Rosan menjelaskan, Presiden secara khusus meminta agar akses pembiayaan dan kesempatan ekonomi bisa dirasakan secara merata. Tidak hanya oleh pelaku bisnis besar, tetapi sampai ke segmen terkecil sekalipun.
Harga Minyak di Bawah 80 Dolar AS Jadi Perhatian
Di luar soal perbankan, Rosan mengungkapkan Presiden juga menyoroti pergerakan harga minyak dunia. Saat ini harga minyak berada di bawah 80 dolar AS per barel. Presiden berharap kondisi itu memberi sentimen positif bagi perekonomian nasional.
Himbara sendiri mencakup bank-bank milik negara yang selama ini menjadi tulang punggung pembiayaan program-program pemerintah. Dengan kapitalisasi gabungan yang menyentuh Rp1.100 triliun, posisi Himbara di pasar modal Indonesia terbilang dominan.
“Kalau dijumlahkan, nilai Himbara kurang lebih Rp1.100 triliun. Ini mencerminkan sekitar 10 persen dari total nilai perusahaan di Indonesia,” kata Rosan.
Ekonomi Berdikari Jadi Visi Presiden
Prabowo juga menekankan cita-cita membangun ekonomi Indonesia yang berdikari — mandiri dan tidak bergantung pada kekuatan asing. Sektor perbankan, terutama Himbara, disebut sebagai salah satu pilar utama untuk mewujudkan visi tersebut.
“Ke depan, perekonomian Indonesia harus menjadi ekonomi yang berdiri di atas kaki sendiri dengan dukungan kuat dari sektor perbankan, terutama Himbara,” pungkas Rosan.
Presiden juga mengingatkan agar seluruh kegiatan perbankan tetap dijalankan dengan prinsip kehati-hatian dan profesionalisme, meski Himbara didorong untuk memperluas peran sosial dan ekonominya. Keseimbangan antara ekspansi dan tata kelola yang prudent menjadi penekanan dalam pertemuan tersebut.
Pertemuan Kamis (19/6/2026) itu menjadi forum pertama kali Presiden Prabowo secara langsung menyampaikan arah kebijakan kepada seluruh pimpinan Himbara sejak awal tahun. Publik kini menunggu langkah konkret bank-bank negara dalam menerjemahkan arahan tersebut ke dalam program pembiayaan yang menyentuh lapisan masyarakat paling bawah.
Editor: Arif Budiman