Teras News — Jakarta, Jumat — Bank Indonesia resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026. Keputusan itu langsung mendapat respons dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia yang menyebut kebijakan tersebut tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak global yang belum mereda.
Kadin Sambut Kenaikan BI Rate, Siap Perkuat Sinergi hingga Daerah
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menyampaikan pernyataannya di Jakarta, Jumat, sesaat setelah BI mengumumkan keputusan RDG tersebut. Ia menilai kenaikan suku bunga bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan pelaku usaha.
“Kami optimistis bisa melewati situasi ini. Tanda-tanda perbaikan sudah mulai terlihat. Kenaikan suku bunga yang dilakukan BI memang ditujukan untuk menjaga stabilitas dan kami mengapresiasi langkah tersebut,” kata Anindya.
Baca Juga:
Kadin, menurut Anindya yang akrab disapa Anin, siap memperkuat sinergi dengan BI hingga ke tingkat daerah. Jaringan Kadin mencakup 514 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, ditambah berbagai asosiasi bisnis yang siap berkontribusi dalam mendorong investasi, ekspor, hilirisasi, dan penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pelaku usaha, kata Anin, juga terus berupaya menggenjot ekspor agar surplus perdagangan melebar dan pasokan devisa bertambah. Kadin turut mendorong masuknya investasi asing langsung guna memperkuat kapasitas industri nasional.
“Kami melihat optimisme tetap ada. Tantangan memang besar, tetapi peluang juga terbuka lebar. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, BI, perbankan, dan dunia usaha, Indonesia memiliki modal yang cukup untuk menjaga stabilitas sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi,” ujar Anin.
Perry Warjiyo: BI All Out Jaga Stabilitas dan Dukung Program Prabowo
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan komitmen BI untuk berdiri di dua sisi sekaligus: menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Perry menyebut BI akan mengerahkan seluruh instrumen kebijakannya untuk mendukung program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pesan yang ia sampaikan ringkas dan tegas.
“Pesan kami sederhana. Pertama, optimistis. Kedua, BI all out menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketiga, kami akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK),” kata Perry.
BI, menurut Perry, selama ini konsisten mengedepankan pendekatan yang berpihak pada bisnis, tidak hanya untuk sektor keuangan dan perbankan, tetapi juga sektor riil. Dengan 46 kantor perwakilan yang tersebar di seluruh Indonesia, BI siap memperkuat sinergi bersama Kadin hingga ke daerah untuk menggerakkan investasi, ekspor, industri pengolahan, dan UMKM.
Tiga Suku Bunga Naik Serentak 25 Basis Poin
Kenaikan BI Rate bukan satu-satunya yang diputuskan dalam RDG Juni 2026. Secara bersamaan, BI juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 4,75 persen, dan suku bunga Lending Facility naik 25 basis poin menjadi 6,50 persen.
Perry menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut. “Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen yang ditetapkan pemerintah,” ujarnya.
Istilah pre-emptive merujuk pada kebijakan yang diambil lebih awal sebelum tekanan inflasi benar-benar terjadi, bukan sebagai reaksi setelah inflasi sudah melampaui target.
Dengan kenaikan serentak di tiga instrumen suku bunga ini, BI kini menunggu respons pasar keuangan dan pelaku usaha dalam beberapa pekan ke depan untuk melihat apakah langkah tersebut cukup menahan pelemahan rupiah sekaligus menjaga daya beli masyarakat tetap terjaga.
Editor: Arif Budiman