Berita

Penyandang Disabilitas Netra Pentaskan Reog Ponorogo, Kementerian Pariwisata Dorong Promosi Wisata Budaya

15
×

Penyandang Disabilitas Netra Pentaskan Reog Ponorogo, Kementerian Pariwisata Dorong Promosi Wisata Budaya

Sebarkan artikel ini

Teras News — Reog Ponorogo kini tak hanya dikenal sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO — kesenian khas Ponorogo ini ternyata bisa dimainkan oleh penyandang disabilitas netra secara utuh, dari memukul gamelan hingga menarikan tokoh-tokoh reog di atas panggung.

Penampilan itu tersaji dalam penutupan Grebeg Suro (festival tahunan yang menandai pergantian Tahun Hijriah) di Alun-Alun Ponorogo, Senin (15/6/2026) malam. Grup Suryo Netro Budoyo, binaan Polres Ponorogo, tampil di hadapan tamu pejabat dan ratusan penonton. Para anggotanya adalah penghuni Panti Asuhan Tunanerta Aisyiyah Ponorogo. Mereka berhasil menuntaskan penampilan dengan rancak, disambut aplaus panjang dari seluruh penonton.

Kementerian Pariwisata: Ponorogo Punya Peluang Besar

Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah II Kementerian Pariwisata, Dwi Marhen Yono, hadir langsung menyaksikan penampilan tersebut. Ia mengakui kekuatan budaya Ponorogo sebagai daya tarik wisata yang nyata.

“Daerah yang memiliki kekayaan budaya seperti Ponorogo memiliki peluang besar untuk memanfaatkan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah,” kata Dwi Marhen di sela acara.

Dwi menyebut tren wisatawan mancanegara saat ini sudah bergeser. Mereka tak lagi sekadar mengejar keindahan alam, melainkan mencari pengalaman budaya yang otentik. Ponorogo, menurutnya, punya semua yang dibutuhkan untuk memenuhi selera itu.

“Pengalaman budaya yang kuat, khas, dan autentik akan mereka dapatkan ketika mengunjungi Ponorogo dengan daya tarik kesenian reog dan pernak-perniknya,” terang Dwi Marhen.

Ia juga mengingatkan bahwa Ponorogo sudah masuk dalam Jejaring Kota Kreatif UNESCO, modal tambahan yang mestinya dimanfaatkan lebih serius. “Gencarkan promosi pariwisata dan gali potensi yang ada,” desaknya.

Plt Bupati: Reog Terbukti Universal dan Mengakar

Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita, yang akrab disapa Bunda Lis, sepakat dengan penilaian tersebut. Ia menyebut Reog Ponorogo sudah memenuhi tiga syarat utama budaya yang layak dijual ke wisatawan dunia: kuat, khas, dan autentik.

Penampilan para disabilitas netra malam itu, bagi Bunda Lis, justru mempertegas sifat universal kesenian reog. “Kita juga punya grup reog perempuan sebagai bukti kesenian khas ini benar-benar mengakar di tengah masyarakat Ponorogo,” ungkapnya.

Grebeg Suro sendiri digelar setiap tahun bersamaan pergantian Tahun Hijriah, menghadirkan dua agenda besar: Festival Reog Remaja (FRR) dan Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP). Dua event itu dinilai punya daya tarik kuat untuk mendatangkan wisatawan mancanegara. “Membuka jalan menuju kemajuan daerah,” kata Bunda Lis.

Pengakuan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO menjadi latar penting di balik optimisme ini. Status itu menempatkan reog sejajar dengan warisan budaya dunia lainnya, sekaligus memberi Ponorogo posisi tawar yang lebih kuat dalam peta pariwisata internasional. Kini tantangannya ada pada konsistensi promosi dan pengelolaan ekosistem wisata budaya di kota tersebut.

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Ratna Dewi