Teras News — Ribuan pengunjung memadati kawasan Telaga Ngebel, Ponorogo, Selasa (16/06/2026), menyaksikan arak-arakan 23 buceng (tumpeng ritual) yang salah satunya tersusun dari 189 buah durian. Gunungan durian, ikan segar, dan tumpeng buah-buahan seberat 200 kilogram itu menjadi daya tarik tersendiri dalam Larungan Telaga Ngebel tahun ini, sekaligus menggerakkan roda perekonomian para pedagang dan pelaku UMKM di kawasan seluas 160 hektare tersebut.
Buceng Agung Dilarung Tepat 1 Muharam
Larungan Telaga Ngebel merupakan puncak prosesi Grebeg Suro, rangkaian perayaan tahun baru Islam di Ponorogo. Tahun ini, ritual pelarungan buceng agung, yakni tumpeng besar berisi beras merah, dilaksanakan tepat pada 1 Muharam 1448 Hijriah. Buceng utama itu dilarung ke tengah telaga, sementara 22 buceng lainnya diarak berkeliling telaga sebelum akhirnya dipurak, atau diperebutkan warga, di depan dermaga.
Fibi Chandra, sekretaris panitia Larungan Telaga Ngebel 2026, merinci isi buceng yang semakin beragam tahun ini. “Ada tiga buceng yang dibuat dari 2.236 buah, termasuk 282 buah durian. Satu buceng durian tersusun dari 189 buah,” katanya. Khusus buceng durian tidak ikut dipurak karena kulit buahnya yang tajam berbahaya bagi warga yang berebut.
Baca Juga:
Plt Bupati: Aset Budaya Penggerak Ekonomi Kreatif
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita, yang dikenal sebagai bupati perempuan pertama di Ponorogo, hadir langsung memimpin jalannya larungan. Ia menegaskan tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan warisan budaya yang membawa nilai filosofis, religius, moral, dan edukatif sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
“Pemerintah Kabupaten Ponorogo berkomitmen mengimplementasikan program pelestarian sekaligus mendorong penguatan ekosistem ekonomi kreatif. Kita sudah sepakat bahwa Larungan Telaga Ngebel sebagai aset budaya,” ujar Lisdyarita, yang akrab disapa Bunda Lis, saat mengawali prosesi larungan.
Bunda Lis menjelaskan makna inti dari tradisi ini sebagai ungkapan syukur masyarakat atas hasil bumi, olah perikanan, dan kekayaan alam kawasan Ngebel. “Larungan Telaga Ngebel memiliki dua aspek penting, yaitu aspek kehidupan spiritual religius dan aspek sosial budaya,” jelasnya. Ribuan pengunjung yang hadir, menurutnya, memberi dampak nyata bagi UMKM, pedagang, dan jasa wisata setempat. “Muncul peluang besar bagi pelaku ekonomi kreatif serta menguatkan citra dan identitas budaya daerah,” imbuh Bunda Lis.
Masyarakat Susun Sendiri 23 Buceng secara Mandiri
Kreativitas warga menjadi kekuatan utama dalam tradisi ini. Seluruh 23 buceng disusun secara mandiri oleh masyarakat dari bahan hasil bumi, aneka buah, dan ikan segar tanpa arahan penuh dari panitia.
“Keterlibatan aktif masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan tradisi Larungan Telaga Ngebel dari tahun ke tahun,” kata Fibi Chandra. Tampilan arak-arakan pun dinilai semakin kreatif dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Larungan Telaga Ngebel terus bertumbuh sebagai agenda wisata budaya tahunan Ponorogo. Dengan antusiasme masyarakat yang konsisten dan dukungan pemerintah daerah dalam pelestarian ekosistem ekonomi kreatif, tradisi yang digelar setiap 1 Muharam ini diharapkan semakin kuat menarik wisatawan ke kawasan Ngebel di tahun-tahun mendatang.
Editor: Ratna Dewi