Internasional

Penjualan Ritel China Anjlok 0,6% di Mei 2025, Pabrik Justru Cuan dari Ekspor

15
×

Penjualan Ritel China Anjlok 0,6% di Mei 2025, Pabrik Justru Cuan dari Ekspor

Sebarkan artikel ini

Teras News — Perekonomian China kini terbelah menjadi dua wajah yang kontras. Penjualan ritel merosot 0,6% pada Mei, penurunan bulanan pertama sejak Desember 2022, sementara sektor industri menikmati pertumbuhan berkat kinerja ekspor yang melampaui ekspektasi.

“Konsumen sekarang tidak seimpulsif dulu,” kata Jie’ao Feng, manajer sebuah bar di distrik keuangan Shanghai, menggambarkan tekanan yang dirasakan pelaku usaha ritel di lapangan.

Penjualan Ritel Balik Arah, Pabrik Justru Melaju

Data Biro Statistik Nasional (NBS) China menunjukkan angka penjualan ritel berbalik negatif pada Mei, dari kenaikan 0,2% di April menjadi minus 0,6%. Angka ini bahkan lebih buruk dari perkiraan konsensus jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan angka stagnan di level 0,0%.

Di sektor otomotif, penurunan penjualan mobil domestik berlanjut selama delapan bulan berturut-turut. Ini merupakan sinyal pelemahan permintaan yang konsisten di pasar mobil terbesar di dunia.

Kondisi ini memunculkan pola pertumbuhan dua kecepatan (two-speed growth) di negara dengan perekonomian terbesar kedua dunia itu. Pabrik-pabrik terdongkrak oleh ekspor yang tangguh, tetapi permintaan di dalam negeri tergerus oleh kelesuan pasar properti yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Piala Dunia Gagal Dongkrak Belanja Konsumen

Bar-bar di kota besar biasanya meraup untung dari musim Piala Dunia. Tahun ini, harapan itu pupus.

Feng mengungkapkan bisnisnya terpukul akibat pemangkasan anggaran hiburan perusahaan (corporate entertainment). Ia sudah menawarkan paket grup untuk menarik pengunjung, tapi strategi itu justru menggerus margin keuntungannya. Penayangan pertandingan Piala Dunia pun tidak banyak menolong karena jadwal siaran yang berlangsung larut malam dan dini hari. Jumlah pelanggan di bulan Juni bahkan lebih sedikit dibanding Mei, padahal penjualannya sempat naik selama libur panjang Hari Buruh.

Pengeluaran wisatawan selama libur Hari Buruh lima hari pada Mei pun tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan konsumsi secara keseluruhan. Efek program tukar-tambah (trade-in) barang konsumen dari pemerintah juga mulai memudar, ditambah basis perbandingan yang tinggi pada Mei tahun lalu.

Ekonom Desak Pemerintah Bertindak

Zhiwei Zhang, kepala ekonom di Pinpoint Asset Management, menilai data penjualan ritel yang lemah ini menambah tekanan bagi pemerintah Beijing untuk merancang kebijakan penstabilan konsumsi. Ia masih memperkirakan adanya penyesuaian kebijakan dalam waktu dekat.

Investasi domestik juga tercatat merosot, menambah daftar panjang indikator permintaan yang melemah. Kelesuan pasar properti yang menjadi biang keladi pelemahan konsumsi sudah berlangsung dalam jangka panjang dan belum menunjukkan pemulihan yang solid.

Beijing kini menghadapi dilema nyata: sektor ekspor memang menopang angka pertumbuhan keseluruhan, namun ekonomi yang bertumpu pada pabrik semata tanpa dukungan konsumsi domestik dinilai para ekonom sebagai fondasi yang rapuh, terutama di tengah ketidakpastian perdagangan global yang masih berlanjut.

Penulis: Ratna Dewi
Editor: Arif Budiman