Berita

B50 Meluncur 1 Juli 2026, Uji Coba 80-90% Berhasil dan Bisa Hemat Devisa Rp 157 Triliun

9
×

B50 Meluncur 1 Juli 2026, Uji Coba 80-90% Berhasil dan Bisa Hemat Devisa Rp 157 Triliun

Sebarkan artikel ini

Teras News — Pemerintah menetapkan 1 Juli 2026 sebagai tanggal peluncuran resmi bahan bakar biodiesel B50, campuran solar dengan 50% bahan bakar nabati berbasis minyak sawit mentah (CPO). Kebijakan ini merupakan lanjutan dari program B40 yang sudah berjalan sejak 2025.

“B50 sesuai dengan jadwal akan diimplementasikan pada 1 Juli 2026. Mungkin satu minggu lagi saya akan melakukan rapat dengan tim uji coba. Sekarang kan kita masih terus melakukan uji coba,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Senin (15/6/2026).

80-90% Parameter Uji Coba Sudah Hijau, Termasuk Kadar Air

Hasil pengujian B50 sejauh ini menunjukkan perkembangan positif. Sekitar 80 hingga 90 persen parameter yang diuji sudah memberikan hasil yang baik, bahkan kadar air pada B50 diklaim lebih rendah dibanding B40.

“Sekitar 80-90% hasil uji coba, alhamdulillah baik. Bahkan kadar airnya dibandingkan dengan B40 itu lebih baik di B50. Namun, hasil akhirnya akan kami sampaikan setelah rapat evaluasi final,” ujar Bahlil.

Kadar air dalam bahan bakar menjadi salah satu indikator kualitas krusial karena kandungan air yang tinggi bisa memicu korosi pada mesin dan menurunkan efisiensi pembakaran. Klaim bahwa B50 lebih baik dalam aspek ini menjadi salah satu sinyal positif dari tahap uji coba akhir yang tengah berjalan.

Target Penyaluran Naik dari 15,64 Juta KL Jadi 17,60 Juta KL

Transisi dari B40 ke B50 juga mendorong revisi target penyaluran bahan bakar nasional. Dari alokasi awal 15,64 juta kiloliter, pemerintah menaikkan target menjadi 17,60 juta kiloliter untuk tahun 2026, dihitung sejak kebijakan baru mulai berlaku pada awal Juli.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, memaparkan proyeksi penghematan devisa yang signifikan dari kebijakan ini. “Untuk proyeksi hingga Desember 2026 dengan adanya penambahan 50% ini, maka penghematan devisa yang bisa dilakukan mencapai Rp 157,28 triliun dan peningkatan nilai tambah CPO juga merambah naik menjadi Rp 24,68 triliun,” papar Eniya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Skema insentif tidak berubah dari program sebelumnya. Subsidi hanya diberikan untuk penyaluran di sektor Public Service Obligation (PSO), sementara sektor non-PSO mengikuti mekanisme harga pasar.

2,2 Juta Lapangan Kerja dan Potensi Kurangi 46,72 Juta Ton Emisi CO2

Di luar hitung-hitungan devisa, pemerintah memproyeksikan B50 mampu menyerap tenaga kerja sekitar 2,2 juta orang. Dari sisi lingkungan, peningkatan porsi energi terbarukan dalam campuran bahan bakar ini ditargetkan menekan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton CO2 sepanjang 2026.

Sebagai perbandingan, program B40 yang berjalan sepanjang 2025 mencatat realisasi penyaluran 14,94 juta kiloliter, dengan tingkat serapan 95,67% dari total alokasi untuk sektor PSO dan non-PSO.

Regulasi pendukung implementasi B50 masih dalam tahap finalisasi di Kementerian ESDM agar seluruh sektor bisa beralih secara bersamaan pada Juli mendatang. Publik dan pelaku industri kini menunggu hasil rapat evaluasi final yang dijadwalkan Bahlil dalam waktu dekat, sebelum pengumuman resmi kesiapan peluncuran B50 dilakukan.

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Ratna Dewi