Berita

Menag Nasaruddin Umar: 1 Muharram 1448 H Jadi Pengingat Pentingnya Persatuan dan Dialog

13
×

Menag Nasaruddin Umar: 1 Muharram 1448 H Jadi Pengingat Pentingnya Persatuan dan Dialog

Sebarkan artikel ini

Teras News — Jelang pergantian tahun hijriah, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat Indonesia agar menjadikan 1 Muharram 1448 Hijriah sebagai titik balik untuk memperkuat persatuan bangsa melalui dialog dan sikap saling merangkul perbedaan.

Pesan itu disampaikan Nasaruddin dalam momen menyambut Tahun Baru Islam 1448 H. Baginya, pergantian tahun hijriah bukan sekadar perayaan seremonial. Ini adalah waktu untuk merefleksikan kembali bagaimana umat dan bangsa berjalan bersama di tengah keragaman yang ada.

Nasaruddin Umar Serukan Dialog Antar Perbedaan

Muharram, sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah, memang kerap dijadikan umat Muslim sebagai waktu muhasabah atau introspeksi diri. Nasaruddin mendorong semangat itu meluas ke ranah kebangsaan, bukan hanya urusan pribadi.

Menag mengajak masyarakat menjadikan tahun baru ini sebagai momentum untuk mempererat tali persaudaraan, khususnya di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai perbedaan pandangan, baik soal agama maupun urusan kemasyarakatan lainnya.

1 Muharram dan Maknanya bagi Kehidupan Berbangsa

Dalam penanggalan Islam, 1 Muharram menandai awal tahun hijriah yang dihitung sejak peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa hijrah sendiri secara historis dimaknai sebagai perpindahan menuju kehidupan yang lebih baik, bukan hanya secara fisik tetapi juga spiritual dan sosial.

Nasaruddin menggarisbawahi bahwa semangat hijrah itu relevan untuk kondisi bangsa saat ini. Persatuan, menurutnya, dibangun bukan dengan menyeragamkan perbedaan, melainkan dengan merangkulnya.

Seruan Menag ini muncul di tengah kondisi masyarakat yang masih terus belajar mengelola keberagaman dalam kehidupan sehari-hari. Pesan toleransi dan dialog dari pejabat negara setingkat menteri diharapkan dapat mengalir ke lapisan masyarakat yang lebih luas.

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Ratna Dewi