Teras News — Bensin yang masuk ke tangki kendaraan jutaan orang Indonesia melewati tiga tahap penyaringan ketat sebelum meninggalkan kilang Pertamina. Proses ini dirancang untuk membuang zat pengotor berbahaya yang secara alami terbawa dalam minyak mentah.
Perusahaan di balik proses itu adalah PT Pertamina Patra Niaga (PPN), anak usaha PT Pertamina (Persero) yang mengoperasikan enam kilang aktif di Indonesia. Corporate Secretary PPN, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa zat pengotor atau impurities dalam minyak mentah mencakup sulfur, garam, asam naftenat, nitrogen, hingga logam berat seperti nikel, vanadium, dan merkuri.
“Proses ini mencegah agar zat-zat tersebut tidak mengontaminasi minyak mentah dan menghambat kinerja kilang sehingga produk kilang tetap terjaga kualitasnya,” kata Roberth.
Baca Juga:
Tiga Tahap yang Harus Dilalui Setiap Tetes BBM
Tahap pertama adalah seleksi dan pencampuran minyak mentah menggunakan sistem yang disebut Crude Acceptance Matrix (CAM). Sistem ini memungkinkan kilang mengolah minyak mentah berkadar pengotor tinggi sekalipun dengan aman, karena komposisinya diatur sejak awal sebelum masuk proses pengolahan.
Tahap kedua adalah pre-treatment dan chemical treatment. Di sinilah kadar air, garam, sulfur, nitrogen, serta logam diturunkan secara signifikan menggunakan teknologi desalter, hydrotreating, dan injeksi bahan kimia pelindung korosi.
Tahap terakhir menyentuh sisi fisik kilang itu sendiri. Pemeliharaan berkala, inspeksi rutin, dan penggunaan material anti-korosi memastikan kilang beroperasi stabil dan tidak mencemari produk yang sedang diolah.
Hasilnya: BBM Standar Euro 4 untuk Mesin Lebih Awet
Ketiga tahap itu menghasilkan BBM yang memenuhi standar Euro 4, yakni standar emisi Eropa yang mensyaratkan kandungan sulfur jauh lebih rendah dibanding produk konvensional. Produk yang masuk kategori ini antara lain Pertamax Turbo, Pertamax Green, dan Pertamina Dex.
Bagi pengguna kendaraan sehari-hari, dampaknya terasa langsung. BBM rendah sulfur mengurangi pembentukan kerak dan korosi di dalam mesin, sehingga usia mesin lebih panjang. Pembakaran yang lebih sempurna juga membuat konsumsi bahan bakar lebih irit.
“Pengelolaan impurities tak hanya menjaga keandalan kilang yang beroperasi di bawah Pertamina Patra Niaga, tetapi juga memberikan konsumen pengalaman berkendara yang lebih nyaman,” ujar Roberth dalam siaran persnya, Senin (15/6/2026).
Kandungan emisi yang lebih rendah dari BBM standar Euro 4 turut berdampak pada kualitas udara. Gas buang kendaraan yang lebih bersih berarti lebih sedikit partikel polutan yang terhirup warga, khususnya di kota-kota padat seperti Jakarta dan Surabaya.
Roberth menyebut pengelolaan impurities sebagai fondasi komitmen perusahaan dalam menjaga pasokan energi nasional yang berkelanjutan dan berkualitas prima. PPN saat ini mengelola distribusi BBM ke seluruh wilayah Indonesia melalui jaringan terminal dan stasiun pengisian yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.
Editor: Ratna Dewi