Teras News — Minggu (14/6/2026), di sebuah kawasan Jakarta Pusat, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Mitra Keluarga Kemayoran, dr. Nancy Virginia, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, FAPSC., menyampaikan peringatan keras: hampir empat dari sepuluh warga Indonesia sudah berada di zona kolesterol tidak aman, dan sebagian besar dari mereka tidak menyadarinya sama sekali.
Angka itu bukan perkiraan. Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang dirilis Kementerian Kesehatan mencatat 39,5 persen penduduk Indonesia memiliki kadar kolesterol yang melampaui batas normal. Artinya, dari setiap sepuluh orang di sekitar kita, hampir empat di antaranya menyimpan bom waktu di dalam pembuluh darahnya.
Kolesterol Tinggi Tak Berikan Gejala Awal
Yang membuat kondisi ini berbahaya bukan hanya angkanya, tapi sifatnya yang diam-diam. Tidak ada nyeri, tidak ada tanda peringatan yang jelas.
Baca Juga:
“Ngerinya, kondisi ini sering kali menyerang tanpa disadari dan tanpa gejala awal,” kata dr. Nancy dalam edukasi kesehatan bertajuk Love The Beat. “Akibatnya, banyak kasus baru yang terdeteksi setelah pasien mengalami komplikasi berat.”
Komplikasi berat yang dimaksud bukan sekadar pusing atau lelah biasa. Penumpukan kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein), atau yang dikenal sebagai kolesterol jahat, di dalam pembuluh darah dapat memicu penyumbatan. Ujungnya: serangan jantung atau stroke.
Penyakit kardiovaskular sampai hari ini masih bertengger sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Kelompok penyakit ini mencakup jantung koroner, stroke, aritmia, hingga gagal jantung.
Cek Profil Lipid Sejak Usia 20 Tahun
Dr. Nancy mendorong masyarakat untuk tidak menunggu gejala muncul sebelum periksa. Pemeriksaan berkala sejak usia muda adalah kuncinya.
“Upaya berkala ini sangat penting demi mengidentifikasi faktor risiko penyakit jantung sejak dini sebelum terlambat,” ujarnya.
Pemeriksaan yang dianjurkan meliputi profil lipid (kolesterol), gula darah, tekanan darah, dan fungsi jantung. Keempat parameter ini bisa memberikan gambaran awal seberapa besar risiko seseorang terhadap gangguan jantung dan pembuluh darah.
Secara biologis, kolesterol sendiri sebenarnya dibutuhkan tubuh. Zat lemak ini berperan dalam pembentukan sel sehat, produksi hormon, dan proses pembentukan vitamin D. Masalah muncul ketika kadarnya berlebihan dan tidak terkontrol.
Gaya Hidup Jadi Faktor Penentu
Di luar pemeriksaan rutin, dr. Nancy menekankan perubahan gaya hidup sebagai garis pertahanan pertama. Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh, minim aktivitas fisik, dan stres yang tidak dikelola dengan baik adalah kombinasi yang mempercepat kerusakan pembuluh darah.
Kontrol terhadap kadar kolesterol, menurut dr. Nancy, sangat memengaruhi tingkat risiko seseorang terkena penyakit kardiovaskular. Semakin dini diketahui, semakin besar peluang untuk mencegahnya berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa.
Dengan hampir 40 persen populasi Indonesia sudah masuk zona merah kolesterol, dokter dan tenaga kesehatan berharap kesadaran masyarakat untuk periksa secara mandiri bisa tumbuh, tidak hanya menunggu sakit untuk datang ke fasilitas kesehatan.
Editor: Surya Dharma