Teras News — Radar cuaca pesawat Singapore Airlines penerbangan SQ321 gagal mendeteksi badai yang mengintai di rute penerbangan, memicu turbulensi mematikan yang menewaskan satu orang dan melukai 79 lainnya dari total 229 orang di dalam pesawat. Temuan itu termuat dalam laporan akhir Biro Investigasi Keselamatan Transportasi Singapura (TSIB) yang dipublikasikan Selasa (19/5/2026).
Radar Pesawat Tak Tangkap Ancaman Cuaca di Atas Myanmar
Pesawat Boeing 777 itu sedang melaju di ketinggian 37.000 kaki di dekat wilayah barat daya Myanmar pada 21 Mei 2024 ketika guncangan vertikal tiba-tiba menghantam kabin. Kru kabin tidak mendapat peringatan apa pun. Momen sebelumnya, mereka sedang menyajikan sarapan kepada penumpang seperti biasa.
Investigator TSIB menemukan indikasi kuat bahwa radar pesawat mengalami fenomena yang disebut under-painting atau no-painting, yakni kondisi di mana sistem radar mendeteksi intensitas cuaca buruk jauh di bawah tingkat keparahan sesungguhnya, atau bahkan gagal mendeteksinya sama sekali. Rekaman kotak hitam memperkuat temuan ini: tidak ada satu pun percakapan di kokpit yang menyebut kondisi cuaca berbahaya sesaat sebelum turbulensi menerjang, menandakan layar navigasi memang menampilkan jalur yang terlihat aman.
Baca Juga:
Kesaksian kru pesawat dinilai investigator sangat kredibel dan konsisten dengan data di kotak hitam.
79 Orang Luka, Satu Warga Inggris Tewas
Begitu guncangan terjadi, penumpang yang tidak mengenakan sabuk pengaman langsung terlempar ke langit-langit kabin. Dari 229 orang di dalam pesawat, 79 penumpang dan awak kabin mengalami luka-luka. Sejumlah di antaranya menderita cedera serius pada kepala dan tulang belakang.
Satu korban jiwa tercatat dalam insiden ini: seorang pria warga negara Inggris berusia 73 tahun. Turbulensi memaksa pilot mengalihkan pendaratan darurat ke Bangkok, Thailand.
Singapore Airlines telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan memberikan kompensasi finansial kepada para korban yang mengalami luka.
Puluhan Kasus Serupa Tercatat di Armada Boeing 777 SIA
Temuan soal kegagalan radar ini bukan kejadian tunggal. Rekam jejak perawatan armada Boeing 777 milik Singapore Airlines menunjukkan adanya puluhan kasus serupa dalam puluhan ribu penerbangan operasional mereka, menurut laporan TSIB.
Komponen radar cuaca dari pesawat tersebut sudah dicopot dan dikirim ke Amerika Serikat pada tahun lalu untuk menjalani pengujian laboratorium. Hasil pengujian itu menjadi salah satu basis utama laporan akhir TSIB.
Dalam penggalan laporan yang dikutip Channel News Asia, TSIB menyatakan: “Tim investigasi berpendapat bahwa” — kutipan lengkap dari laporan resmi belum dirilis secara penuh ke publik saat berita ini diturunkan.
Turbulensi dan Keselamatan Penerbangan
Turbulensi udara jernih (clear-air turbulence) dikenal sebagai salah satu bahaya penerbangan yang sulit diprediksi karena tidak selalu tampak di radar konvensional dan tidak terlihat secara visual oleh pilot. Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) mencatat turbulensi sebagai penyebab utama cedera serius pada penumpang dalam penerbangan komersial selama beberapa dekade terakhir.
Kasus SQ321 kini menjadi salah satu referensi penting dalam diskusi global soal keandalan sistem radar cuaca pesawat. Laporan akhir TSIB diperkirakan akan memicu tinjauan ulang terhadap standar kalibrasi radar cuaca di sejumlah maskapai internasional.
Editor: Surya Dharma