Internasional

China Gencarkan Diplomasi di Tengah Konflik AS-Iran, Xi-Trump Dijadwalkan Bertemu Bulan Depan

17
×

China Gencarkan Diplomasi di Tengah Konflik AS-Iran, Xi-Trump Dijadwalkan Bertemu Bulan Depan

Sebarkan artikel ini

China mengambil posisi hati-hati dalam konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, dengan menjalankan dua jalur secara bersamaan: aktif dalam diplomasi dengan Teheran sekaligus mempersiapkan pertemuan antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump yang dijadwalkan berlangsung bulan depan.

Di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran, Beijing justru meningkatkan intensitas aktivitas diplomatiknya. Namun pada saat yang sama, China menahan diri untuk tidak menyampaikan kritik keras terhadap langkah militer Washington, demi menjaga kelancaran agenda pertemuan Xi-Trump yang sempat tertunda akibat konflik ini.

Peran China dalam Mendorong Pembicaraan Damai

Trump disebut memberikan kredit kepada Beijing karena membantu mendorong Iran untuk hadir dalam pembicaraan damai yang digelar di Pakistan akhir pekan lalu. Pengakuan itu muncul di tengah upaya diplomasi China yang berlangsung secara intensif.

“Anda telah mendengar Presiden Trump berulang kali menyebut bagaimana pihak China berbicara dengan Iran,” kata Eric Olander, pemimpin redaksi China-Global South Project, dilansir Reuters, Jumat (17/4/2026). “Hal itu menempatkan mereka di ruang negosiasi, bahkan jika bukan di meja utama.”

Menteri Luar Negeri Wang Yi tercatat telah melakukan hampir 30 panggilan dan pertemuan dengan mitra internasional untuk mendorong gencatan senjata. Selain itu, utusan khusus Zhai Jun melakukan tur ke lima ibu kota negara Teluk dan Arab. Dalam salah satu perjalanannya, Zhai bahkan harus menempuh jalur darat untuk menghindari wilayah udara yang diperebutkan.

Rencana Perdamaian Empat Poin Xi Jinping

Xi Jinping angkat bicara pada Selasa dengan menyampaikan rencana perdamaian empat poin. Rencana tersebut menekankan pentingnya koeksistensi damai, kedaulatan negara, supremasi hukum internasional, serta keseimbangan antara pembangunan dan keamanan.

Ketika Trump memperingatkan bahwa “seluruh negara bisa dihancurkan dalam satu malam”, Beijing memilih respons yang terukur. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning hanya menyatakan bahwa China “sangat prihatin” dan mendesak semua pihak untuk memainkan “peran konstruktif dalam meredakan situasi.”

Kepentingan Energi dan Agenda Perdagangan

Para analis menilai pendekatan China dalam konflik ini tidak lepas dari posisinya sebagai importir minyak mentah terbesar dunia. Separuh kebutuhan energi China berasal dari kawasan Timur Tengah, sehingga stabilitas kawasan menjadi kepentingan utama Beijing.

Sumber yang mengetahui pemikiran pemerintah China menyebut bahwa Beijing juga memanfaatkan momentum ini untuk kepentingan lain, termasuk isu perdagangan dan Taiwan, menjelang pertemuan Xi-Trump. Trump dinilai sebagai sosok yang “transaksional dan mudah dipengaruhi pujian,” sehingga China disebut ingin “memberinya sambutan karpet merah dan menjaga stabilitas strategis.”

Dilansir dari laporan CNBC Indonesia.