Kesehatan

Pasar Obat Herbal Global Capai USD 500 Miliar, Indonesia Baru Raih USD 5 Miliar — Produsen Desak Fitofarmaka Masuk BPJS

12
×

Pasar Obat Herbal Global Capai USD 500 Miliar, Indonesia Baru Raih USD 5 Miliar — Produsen Desak Fitofarmaka Masuk BPJS

Sebarkan artikel ini

Teras News — Indonesia, yang menyandang status negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil, baru menikmati USD 5 miliar dari total pasar obat herbal global yang nilainya mencapai USD 500 miliar. Dexa Group, salah satu perusahaan farmasi dalam negeri, mendorong pemerintah untuk membuka akses fitofarmaka (obat berbahan alam yang telah melewati uji klinis) ke dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (BPJS Kesehatan) sebagai cara mempercepat penetrasi pasar tersebut.

“Besarnya potensi pasar obat herbal yang mencapai USD 500 miliar dengan pemain utama dari China dan India, sementara Indonesia baru mencapai USD 5 miliar, sehingga Indonesia memiliki peluang untuk menggali potensi pengembangan obat herbal lokal yang lebih luas,” kata Raymond Tjandrawinata, Director of Research and Business Development Dexa Group, dalam dialog yang ditayangkan CNBC Indonesia, Selasa (12/5/2026).

Fitofarmaka Belum Masuk Sistem Kesehatan Nasional

Celah antara potensi dan realisasi itu bukan tanpa sebab. Raymond menunjuk satu hambatan utama: produk fitofarmaka dan obat tradisional belum terintegrasi ke dalam sistem kesehatan nasional. Akibatnya, dokter di klinik maupun rumah sakit nyaris tidak punya insentif untuk meresepkan obat berbahan alam, dan pasien pun sulit mengaksesnya lewat skema BPJS Kesehatan.

Fitofarmaka berbeda dari jamu biasa. Produk ini sudah menjalani serangkaian uji pra-klinis dan uji klinis untuk membuktikan keamanan serta khasiatnya secara ilmiah, setara dengan standar yang berlaku pada obat kimia konvensional. Dexa Group mengembangkan lini produk ini di bawah kategori Obat Modern Asli Indonesia (OMAI).

Tren “Back to Nature” Dongkrak Permintaan Global

Di sisi permintaan, angin sedang berpihak pada industri ini. Raymond mencatat tren back to nature atau kembali ke alam mendorong minat masyarakat dunia terhadap produk herbal. Tren itu bukan fenomena sesaat — ia bergerak seiring meningkatnya kesadaran konsumen global terhadap kesehatan holistik dan kekhawatiran terhadap efek samping obat sintesis.

China dan India selama ini memimpin pasar berkat ekosistem yang sudah matang: riset intensif, rantai pasok bahan baku yang kuat, hingga dukungan regulasi yang memudahkan produk herbal masuk ke fasilitas layanan kesehatan formal. Indonesia, dengan kekayaan flora yang jauh melampaui kedua negara itu dalam hal keragaman spesies, belum membangun ekosistem serupa.

Tiga Titik Intervensi yang Diusulkan

Dexa Group mengidentifikasi tiga area yang perlu dibenahi sekaligus. Pertama, penguatan rantai pasok bahan baku herbal lokal agar produksi bisa berskala industri. Kedua, perluasan akses di titik layanan kesehatan, mulai dari puskesmas dan klinik hingga rumah sakit. Ketiga, dan yang paling krusial, membuka pintu BPJS Kesehatan untuk produk fitofarmaka guna mendorong dokter aktif meresepkannya.

Tanpa masuk ke dalam daftar obat yang ditanggung BPJS, fitofarmaka akan terus bersaing di ruang sempit pasar swalayan dan apotek ritel, jauh dari jangkauan pasien yang bergantung pada layanan kesehatan bersubsidi.

Sejauh ini pemerintah belum memberikan pernyataan resmi merespons usulan tersebut. Desakan dari industri ini kemungkinan akan semakin mengeras seiring meningkatnya investasi riset OMAI dalam negeri dan tekanan dari produsen herbal yang ingin bersaing di pasar ekspor.

Penulis: Dian Permata
Editor: Arif Budiman