Otomotif

Penjualan Mobil Nasional Naik 55 Persen, Pabrikan Khawatir Stok Plastik Habis 2-3 Bulan Lagi

10
×

Penjualan Mobil Nasional Naik 55 Persen, Pabrikan Khawatir Stok Plastik Habis 2-3 Bulan Lagi

Sebarkan artikel ini

Teras News — Pabrikan otomotif nasional kini berada dalam situasi yang serba tidak nyaman. Penjualan mobil melonjak tajam, tapi ketersediaan bahan baku plastik untuk produksi justru semakin tipis akibat gangguan rantai pasokan global yang belum juga pulih.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat wholesales atau penjualan dari pabrik ke dealer mencapai 80.776 unit pada April 2026, naik 55 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka yang seharusnya menjadi kabar baik itu kini justru menambah tekanan bagi produsen yang khawatir soal kesinambungan produksi.

Stok Plastik Tinggal 2-3 Bulan, Bergantung Geopolitik Global

Sekretaris Umum GAIKINDO Kukuh Kumara mengakui pasokan bahan baku plastik belum kembali normal. Industri saat ini masih bertahan dengan cadangan stok yang dipegang masing-masing pemasok komponen.

“Mungkin ada pemasok-pemasoknya itu kan masih punya stok,” kata Kukuh kepada CNBC Indonesia, Senin (11/5/2026).

Rata-rata perusahaan diperkirakan memiliki cadangan sekitar dua hingga tiga bulan ke depan. Namun Kukuh mengingatkan daya tahan stok itu tidak seragam. “Itu biasanya mereka punya buffer sekitar 2-3 bulanan ya, tapi kan tergantung dari level masing-masing perusahaan stoknya seberapa,” ujarnya.

Plastik merupakan komponen krusial dalam produksi kendaraan bermotor, digunakan mulai dari panel interior, bumper, hingga komponen sistem kelistrikan. Ketergantungan industri otomotif pada bahan baku ini membuat gangguan pasokan bisa langsung berdampak pada jadwal produksi.

Produsen Cari Pemasok Alternatif

Menghadapi ketidakpastian ini, sejumlah produsen otomotif mulai menerapkan strategi multisourcing, yakni mencari pemasok alternatif agar lini produksi tidak bergantung pada satu sumber saja. Strategi ini dijalankan bersamaan dengan upaya mempertahankan stok cadangan yang ada.

“Multi sourcing dan punya masih ada stok lah ya,” kata Kukuh.

Akar masalahnya ada di luar negeri. Ketegangan geopolitik global yang masih berlangsung mengganggu rantai suplai bahan baku dari negara-negara produsen. Kukuh berharap situasi itu segera berubah. “Mudah-mudahan geopolitik ini segera terselesaikan dan kemudian suplai kembali normal,” ucapnya.

Industri otomotif nasional kini menunggu perkembangan situasi internasional yang menjadi penentu apakah cadangan bahan baku yang tersisa cukup menutup lonjakan permintaan atau tidak. Jika ketegangan global berlanjut melewati batas buffer stok yang ada, tekanan pada jadwal produksi bisa mulai terasa nyata di kuartal berikutnya.

Penulis: Rizky Pratama
Editor: Arif Budiman