Berita

Pasar Tematik Dam Cokro Ponorogo Buka Dua Minggu Sekali, Transaksi Pakai Koin Khusus

12
×

Pasar Tematik Dam Cokro Ponorogo Buka Dua Minggu Sekali, Transaksi Pakai Koin Khusus

Sebarkan artikel ini

Teras News — Minggu (10/5/2026) pagi, suasana Kelurahan Cokromenggalan, Ponorogo, terasa berbeda. Di tepi aliran Sungai Cokromenggalan, ratusan pengunjung memadati Pasar Tematik Dam Cokro, sebuah pasar tradisional yang menawarkan pengalaman belanja kuliner tempo dulu lengkap dengan sistem transaksi menggunakan koin khusus pengganti uang rupiah.

Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita, yang akrab disapa Bunda Lis, hadir langsung ke lokasi bersama Sekretaris Daerah Agus Sugiarto. Sama seperti pengunjung lain, Bunda Lis harus menukarkan uang rupiahnya dengan koin khusus di pintu masuk sebelum bisa memilih jajanan yang tersedia di dalam pasar.

Getuk, Polo Pendem, dan Jajanan Tradisional Khas Ponorogo

Pasar ini menyuguhkan suasana rikolo semono (gambaran kehidupan zaman dulu) dengan deretan kuliner tradisional yang kini makin jarang ditemui. Pengunjung bisa mencicipi getuk, rebusan polo pendem (umbi-umbian seperti singkong, talas, dan ubi), serta aneka jajanan khas lainnya. Bunda Lis mengaku langsung mencoba makanan yang dijual di sana.

“Cita rasa makanannya sudah enak, saya tadi mencobanya langsung. Pedagang perlu menjaga konsistensi ini,” ujar Bunda Lis.

Ia menyebut pasar ini layak jadi alternatif destinasi wisata akhir pekan sekaligus penggerak ekonomi warga sekitar. “Lingkungan alamnya mendukung, udara yang sejuk dan dekat aliran Sungai Cokromenggalan. Cocok untuk menikmati suasana pagi pada akhir pekan,” tambahnya.

Buka Dua Minggu Sekali, Tema Ganti-Ganti Tiap Sesi

Pasar Tematik Dam Cokro tidak buka setiap hari. Jadwalnya dua minggu sekali. Tiap sesi, pengelola mengusung tema berbeda agar pengunjung punya alasan baru untuk datang kembali.

Lurah Cokromenggalan Dwi Imbar Wahyono mengatakan, sesi yang digelar Minggu kemarin mengangkat tema pendidikan. “Bersamaan momentum peringatan Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional),” ungkapnya.

Dwi mencatat antusiasme warganya terus tumbuh. Para pedagang aktif berkreasi menghadirkan produk kuliner baru untuk menarik lebih banyak pengunjung. “Tentunya juga berpotensi meningkatkan kunjungan wisata ke Ponorogo,” kata Dwi.

Potensi Wisata dan Ekonomi Kreatif Warga Lokal

Bunda Lis, yang tercatat sebagai bupati perempuan pertama di Ponorogo, menilai pasar ini bukan sekadar ajang jual beli. “Keren banget, salah satu event kreatif yang mampu memperkuat sektor pariwisata,” katanya.

Pasar serupa memang sudah lebih dulu muncul di berbagai daerah lain di Indonesia. Namun Pasar Tematik Dam Cokro menawarkan keunggulan dari sisi lokasi: berada di pinggir sungai dengan udara pagi yang segar, memberi suasana berbeda dari pasar tematik urban pada umumnya.

Dengan sistem tema berganti dan jadwal buka dua minggu sekali, pengelola berharap pasar ini bisa menjadi agenda rutin warga Ponorogo dan wisatawan dari luar daerah yang ingin merasakan cita rasa kuliner tradisional dalam suasana tempo dulu.

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Surya Dharma