Teras News — Rabu (6/5/2026), Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mempublikasikan rekaman video yang diklaim memperlihatkan serpihan pesawat nirawak milik Amerika Serikat, yang disebut telah ditembak jatuh oleh pasukan pertahanan Iran di atas Selat Hormuz. Video itu dirilis di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington.
Rekaman tersebut menampilkan sejumlah orang berdiri di dekat serpihan pesawat nirawak berukuran besar. Tanggal pasti pengambilan gambar tidak dapat dipastikan dari video itu sendiri, namun tidak ditemukan versi rekaman serupa yang beredar secara daring sebelum 6 Mei.
Puing Diduga Milik Drone Tempur MQ-9A Reaper
Analisis visual terhadap rekaman tersebut menunjukkan bahwa puing yang terlihat menyerupai tangki bahan bakar eksternal milik pesawat nirawak General Atomics MQ-9A ER Reaper, yang juga dikenal sebagai Predator B. Drone jenis ini dioperasikan militer AS untuk misi pengintaian sekaligus serangan.
Baca Juga:
Arun Dawson, kandidat doktor Studi Perang di Freeman Air and Space Institute, menyatakan kepada Reuters bahwa objek dalam rekaman itu “paling sesuai” dengan tangki bahan bakar eksternal MQ-9A ER Reaper. Pihak Amerika Serikat hingga kini belum memberikan konfirmasi resmi atas klaim Iran tersebut.
Trump Prediksi Perang Segera Berakhir, Negosiasi Masih Buntu
Insiden ini terjadi saat perundingan antara kedua negara masih berlangsung. Presiden AS Donald Trump memprediksi perang akan segera berakhir. Teheran disebut tengah mempertimbangkan proposal perdamaian dari Washington, namun sejumlah tuntutan utama AS belum mendapat kesepakatan, termasuk penghentian program nuklir Iran dan jaminan keterbukaan Selat Hormuz bagi lalu lintas internasional.
Selat Hormuz merupakan jalur maritim strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini setiap harinya, sehingga kondisi geopolitik di kawasan tersebut berdampak langsung terhadap pasar energi global.
Ketegangan di kawasan Teluk Persia kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir, seiring dengan serangkaian manuver militer kedua pihak. Dengan negosiasi yang belum menghasilkan kesepakatan konkret dan insiden drone yang masih diperdebatkan statusnya, situasi di Selat Hormuz tetap menjadi titik perhatian komunitas internasional.
Editor: Surya Dharma