Berita

Komisi III DPR: Pembunuhan dan Kekerasan Seksual di NTT dan Sulawesi Kerap Berawal dari Miras

29
×

Komisi III DPR: Pembunuhan dan Kekerasan Seksual di NTT dan Sulawesi Kerap Berawal dari Miras

Sebarkan artikel ini

Teras News — Kasus pembunuhan dan kekerasan seksual yang dipicu konsumsi minuman keras terus berulang di sejumlah daerah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawesi. Anggota Komisi III DPR RI, Andi Amar Ma’ruf Sulaiman, mencatat pola serupa terjadi di kedua wilayah itu, dengan miras oplosan dan minuman keras tradisional sebagai pemicunya.

Andi Amar mengungkap temuannya usai Kunjungan Kerja Reses Komisi III di Kupang, NTT, Rabu (24/4). Pola yang ditemukan di NTT, kata dia, nyaris identik dengan situasi di daerah asalnya, Sulawesi Selatan.

“Banyak kasus pembunuhan, kekerasan seksual, dan tindak pidana lainnya yang disampaikan oleh pihak Kepolisian maupun Kejaksaan. Ini mirip dengan di daerah kami, yang muaranya sering kali dari miras oplosan atau kebiasaan yang dianggap sebagai bagian dari adat,” kata Andi Amar.

Miras Tradisional Berlindung di Balik Adat

Politisi Fraksi Partai Gerindra itu menyoroti fenomena di Sulawesi Selatan, di mana minuman keras tradisional bernama ballo (arak khas Sulawesi yang difermentasi dari nira atau beras) kerap menjadi akar persoalan serupa. Konsumsinya sulit dibendung karena masyarakat menganggapnya bagian dari tradisi.

Sikap permisif itulah yang menurut Andi Amar memperparah keadaan. Ketika miras terbungkus dalih adat, kontrol sosial melemah. Akibatnya, hilangnya kendali diri berujung pada perkelahian, kekerasan seksual, hingga pembunuhan.

Fokus Edukasi Diarahkan ke Generasi Muda

Andi Amar mendorong aparat penegak hukum dan pemangku kepentingan untuk menggencarkan sosialisasi bahaya miras, terutama kepada kalangan muda. Ia mengakui mengubah perilaku generasi tua jauh lebih sulit.

“Kalau generasi yang lebih tua mungkin sulit diubah, tetapi generasi muda masih bisa kita arahkan. Kita perlu bersama-sama menyosialisasikan bahwa ini bukan adat yang baik untuk dipertahankan, melainkan kebiasaan buruk yang harus perlahan dihilangkan,” tegasnya.

Dilansir dari laporan Gerindra.

Penulis: Dian Permata
Editor: Surya Dharma