Teras News — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu langsung di Beijing pada Kamis (14/5/2026). Agenda pertemuan mencakup isu-isu paling sensitif dalam hubungan kedua negara: perdagangan, teknologi, kendali ekspor tanah jarang (rare earth), kecerdasan buatan (AI), hingga posisi AS terhadap Taiwan.
“Hampir setiap orang memiliki kepentingan dalam hasil pertemuan ini,” kata Chad Bown, peneliti senior di Peterson Institute for International Economics, seperti dilaporkan CNBC International.
Tanah Jarang dan Semikonduktor Sudah Guncang Rantai Pasok Global
Sebelum pertemuan puncak ini terwujud, China lebih dulu mengambil langkah keras. Beijing menangguhkan ekspor berbagai jenis tanah jarang dan melarang semikonduktor dari Nexperia China. Dampaknya langsung terasa di industri otomotif Eropa, Jepang, dan Korea Selatan yang bergantung pada pasokan material tersebut.
Baca Juga:
Tanah jarang adalah sekelompok 17 unsur logam yang digunakan dalam produksi baterai kendaraan listrik, komponen elektronik, hingga peralatan militer. China menguasai sebagian besar produksi dan pengolahan tanah jarang dunia, menjadikan kontrol ekspor mereka sebagai senjata tawar yang sangat efektif.
Washington membalas dengan tuduhan serius. AS menuding China mencuri teknologi AI milik Amerika secara besar-besaran. China, di sisi yang berbeda, memerintahkan perusahaannya untuk mengabaikan sanksi AS terhadap minyak Iran.
Pertemuan Tertunda Sejak Maret karena Konflik Iran
Pertemuan Trump-Xi ini seharusnya berlangsung pada Maret lalu. Keterlibatan Washington dalam perang melawan Iran, yang memicu guncangan energi disebut sebagai yang terparah dalam sejarah, memaksa jadwal itu digeser.
Sehari sebelum pertemuan puncak di Beijing, pejabat tinggi kedua negara lebih dulu bertemu di Korea Selatan pada Rabu (13/5/2026). Wakil Perdana Menteri China He Lifeng dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent diagendakan membahas isu perdagangan dalam pertemuan pendahuluan tersebut.
Taiwan Jadi Titik Paling Rawan
Beijing dilaporkan mendesak pemerintahan Trump untuk mengurangi komitmen keamanan terhadap Taiwan dan merevisi kebijakan resmi AS terhadap pulau itu. Diplomat tinggi China Wang Yi sudah menyampaikan tekanan ini secara langsung kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada 30 April lalu, menyebut Taiwan sebagai titik risiko terbesar dalam hubungan bilateral kedua negara.
“Kesepakatan tersirat atau eksplisit di mana Washington tampak memberikan ruang lingkup pengaruh kepada Beijing atas Taiwan demi konsesi di tempat lain dapat membuat China semakin berani untuk mengikis otonomi Taiwan,” kata Bonnie Glaser, direktur pelaksana program Indo-Pasifik di German Marshall Fund Amerika Serikat.
Ekonomi Global Ikut Tersandera Hasilnya
Eswar Prasad, profesor ekonomi di Cornell University, menggambarkan skala dampak yang bisa ditimbulkan dari pertemuan ini.
“Seluruh dunia akan berharap kedua pemimpin dapat mencapai kesepakatan setidaknya pada sebagian masalah dan menemukan cara untuk mencegah eskalasi ketegangan lebih lanjut,” ujar Prasad. Ia menambahkan bahwa hasil pertemuan ini akan memiliki dampak besar bagi perdagangan global, geopolitika, hingga kelangsungan tatanan dunia yang berbasis aturan.
Jika pertemuan berakhir buntu, volatilitas ekonomi dan geopolitik dikhawatirkan akan melumpuhkan pertumbuhan global. Para pemimpin dunia dipastikan memantau ketat setiap keputusan yang keluar dari ruang pertemuan di Beijing itu, mengingat konsekuensi jangka panjang yang bisa ditimbulkan.
Editor: Surya Dharma