Teras News — Stok beras nasional Bulog kini menyentuh 5,2 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Di Gudang Kelapa Gading, Jakarta Utara, kapasitas penyimpanan seluas 355 ribu ton hampir habis terpakai, dengan tingkat keterisian mencapai 98 persen.
Kondisi gudang yang nyaris penuh itu disaksikan langsung oleh ratusan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia yang diundang Perum Bulog untuk berkunjung ke fasilitas tersebut pada Rabu (6/5/2026). Mereka melihat sendiri tumpukan beras yang menggunung hampir menyentuh langit-langit gudang, sekaligus mengikuti penjelasan soal alur pengolahan gabah hingga menjadi beras siap konsumsi.
Gudang Penuh, Bulog Sewa 140 Ribu Ton Kapasitas Tambahan di Banten
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan volume beras di Gudang Kelapa Gading kini mendekati batas maksimal, yakni sekitar 350 ribu ton dari total kapasitas 355 ribu ton. Akibatnya, Bulog terpaksa mencari ruang penyimpanan di luar Jakarta.
Baca Juga:
“Tingkat keterisian gudang telah mencapai 98 persen,” ujar Ahmad Rizal dalam kunjungan tersebut.
Bulog kemudian menyewa gudang di Tangerang dan sejumlah wilayah di Banten. Total kapasitas tambahan yang disewa mencapai 140 ribu ton, khusus untuk mendukung kebutuhan penyimpanan di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.
Stok 5,2 Juta Ton, Tertinggi dalam Sejarah Indonesia
Secara nasional, angka 5,2 juta ton itu menempatkan stok cadangan beras pemerintah (CBP) pada posisi yang belum pernah tercatat sebelumnya. CBP adalah stok beras yang dikuasai pemerintah melalui Bulog dan digunakan untuk stabilisasi harga, penanggulangan bencana, serta program bantuan pangan.
Kunjungan BEM ke gudang Bulog ini merupakan bagian dari upaya transparansi yang dilakukan Perum Bulog di tengah keraguan sebagian publik soal kondisi stok pangan nasional. Mahasiswa yang hadir menilai kondisi tersebut mencerminkan ketersediaan beras yang memadai, termasuk untuk menghadapi potensi El Nino ke depan.
Dengan gudang yang sudah penuh dan sewa kapasitas tambahan yang terus berjalan, pertanyaan berikutnya adalah seberapa cepat Bulog bisa mendistribusikan stok tersebut ke masyarakat agar tidak menimbulkan biaya penyimpanan yang membengkak.
Editor: Ratna Dewi