Berita

Rombongan Seruni KMP dan DWP ESDM Kunjungi Sangiran, Dorong Situs Warisan Dunia Jadi Tujuan Wisata Edukasi

7
×

Rombongan Seruni KMP dan DWP ESDM Kunjungi Sangiran, Dorong Situs Warisan Dunia Jadi Tujuan Wisata Edukasi

Sebarkan artikel ini

Teras News — Rabu (6/5/2026), rombongan Seruni (Solidaritas Perempuan untuk Indonesia) Kabinet Merah Putih dan Dharma Wanita Persatuan Kementerian ESDM tiba di kawasan cagar budaya Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Dipimpin Ketua Seruni KMP Bidang 4, Sri Suparni Bahlil Lahadalia, kunjungan itu didampingi Bupati Sragen Sigit Pamungkas beserta jajaran.

Dua lokasi masuk agenda kunjungan: Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, dan Galeri Griya Mbah Sinyur di Desa Manyarejo, Kecamatan Plupuh.

Sangiran Punya Lima Klaster, Diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia

Rombongan memulai kunjungan di Klaster Krikilan, salah satu dari lima klaster museum yang membentuk kawasan Sangiran. Penanggung Jawab Museum Cagar Budaya, Haris Mahendra, menjelaskan bahwa kelima klaster itu adalah Krikilan, Dayu, Ngebung, Bukuran, dan Manyarejo. Museum ini berada di bawah naungan Kementerian Kebudayaan dan berfungsi sebagai pusat pelestarian sekaligus penyampaian informasi kepada publik.

Situs Sangiran telah diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia. Pengakuan itulah yang mendorong Sri Suparni menyuarakan perlunya pemanfaatan lebih luas kawasan ini, terutama untuk kalangan pelajar.

“Museum Sangiran ini sudah diakui dunia, sehingga kita harus bangga. Bahkan bisa dijadikan kunjungan wajib bagi anak sekolah, agar mereka mengenal sejarah dan aset daerahnya,” kata Sri Suparni.

Ia juga menyinggung potensi Sragen yang menurutnya belum sepenuhnya dimanfaatkan. “Kunjungan ini membuat kita mengetahui aset luar biasa yang dimiliki Kabupaten Sragen. Potensi ini bisa terus dieksplor, agar Sragen semakin dikenal hingga tingkat internasional,” ujarnya.

Di Galeri Mbah Sinyur, Peserta Bersihkan Fosil Asli yang Baru Ditemukan

Dari Klaster Krikilan, rombongan bergerak ke Galeri Griya Mbah Sinyur di Desa Manyarejo. Kedatangan mereka disambut pertunjukan seni tradisional Gejuk Lesung Mbah Wit, seni tabuh tradisional menggunakan lesung yang masih hidup di kalangan warga pedesaan setempat.

Di galeri itu, peserta mengikuti demonstrasi konservasi fosil yang dipandu tim Museum Cagar Budaya bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen. Mereka mempraktikkan langsung pembersihan fosil dari lapisan tanah menggunakan fosil asli yang baru ditemukan.

Ketua Tim Cagar Budaya Permuseuman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sragen, Andjarwati Sri Sajekti, menjelaskan latar belakang berdirinya galeri yang juga dikenal sebagai Galeri Empu Balung ini.

“Galeri ini diinisiasi oleh Yayasan Arsari Djojohadikusumo, sebagai bentuk penghargaan kepada para penemu fosil di wilayah Manyarejo, yakni Empu Balung Asmorejo, Siswanto, Parmin, Setu, dan Minto, yang telah berjasa menyumbangkan temuan mereka kepada museum untuk dilestarikan,” ungkap Andjarwati.

Kunjungan ini memperkuat wacana menjadikan Sangiran bukan sekadar objek wisata sejarah, melainkan ruang belajar hidup bagi generasi muda Indonesia. Kabupaten Sragen kini menantikan tindak lanjut konkret dari berbagai pihak agar potensi situs bertaraf internasional itu benar-benar terjangkau oleh siswa-siswa di seluruh penjuru negeri.

Penulis: Surya Dharma
Editor: Ratna Dewi