Teras News — Harga emas Antam melorot Rp20.000 pada Senin (11/5/2026), menjadi Rp2.819.000 per gram. Penurunan ini mengakhiri tren kenaikan yang sempat membawa harga emas ke level tinggi beberapa waktu terakhir.
Bagi masyarakat yang berencana membeli emas batangan hari ini, koreksi harga ini sedikit meringankan beban di kantong. Namun bagi pemegang emas yang sudah beli di harga puncak, selisih Rp20.000 per gram tentu terasa di total nilai portofolio mereka, terutama yang memiliki kepingan dalam jumlah besar.
Emas Antam Masih di Kisaran Rp2,8 Juta per Gram
Meski turun, harga emas Antam masih bertahan di zona Rp2,8 jutaan. Angka ini tetap terbilang tinggi secara historis. Emas batangan produksi PT Aneka Tambang (ANTM) memang telah mencatat reli panjang sepanjang tahun ini, dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global dan tingginya permintaan aset safe haven di berbagai pasar dunia.
Baca Juga:
Koreksi harian seperti yang terjadi Senin ini lazim terjadi di pasar komoditas. Harga emas bergerak mengikuti sentimen pasar global, termasuk pergerakan dolar AS dan data ekonomi dari Amerika Serikat maupun Eropa.
Dampak bagi Pembeli Ritel
Penurunan Rp20.000 per gram mungkin terkesan kecil. Tapi kalau dihitung untuk pembelian 10 gram, selisihnya sudah Rp200.000. Untuk 100 gram, penghematan mencapai Rp2 juta. Banyak pembeli ritel yang justru memanfaatkan momen koreksi seperti ini untuk masuk atau menambah kepemilikan emas fisik mereka.
Harga emas Antam yang dipantau pada awal pekan ini berlaku untuk transaksi di gerai resmi Antam maupun platform digital yang menjual produk serupa. Calon pembeli disarankan memverifikasi harga terbaru langsung melalui kanal resmi sebelum bertransaksi, mengingat harga bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan pasar.
Pergerakan harga emas dalam beberapa pekan ke depan masih akan bergantung pada dinamika ekonomi global. Pasar menunggu sejumlah rilis data penting dari Amerika Serikat yang bisa memengaruhi arah dolar, dan pada akhirnya, menentukan apakah harga emas kembali naik atau melanjutkan koreksi.
Editor: Ratna Dewi