Berita

Taj Yasin: Pemimpin Sejati Tak Ingin Dilayani, Wagub Jateng Cerita Soal Cuci Piring Sendiri

16
×

Taj Yasin: Pemimpin Sejati Tak Ingin Dilayani, Wagub Jateng Cerita Soal Cuci Piring Sendiri

Sebarkan artikel ini

Teras News — Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menegaskan bahwa jabatan publik bukan hak istimewa untuk dilayani. Pesan itu ia sampaikan di hadapan jemaah Pengajian dan Halalbihalal Majlis Ta’lim Nurul Qolbi, Wisma Perdamaian Kota Semarang, Jumat (1/5/2026).

Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin ini mengangkat teladan Rasulullah SAW saat berhaji sebagai rujukan. Kala itu, Rasulullah berbaur dengan rakyat biasa hingga tak bisa dibedakan mana pemimpin, mana yang dipimpin. Dari situ, Gus Yasin menarik satu prinsip yang ia pegang dalam kesehariannya sebagai pejabat.

“Pemimpin itu terlihat akhlaknya ketika ia tidak menonjolkan kepemimpinannya, dan tidak ingin dilayani,” katanya.

Gus Yasin Tegur Tim Protokol: Jangan Usir Warga

Gus Yasin mengaku kerap mengingatkan tim protokolnya agar tidak bersikap berlebihan saat mendampinginya di lapangan. Baginya, pagar pengawal yang terlalu ketat justru menciptakan jarak antara pejabat dan warga.

“Saya sering sampaikan kepada kawan-kawan protokol, tugas kalian mengawal boleh, tapi jangan berlebihan. Apalagi sampai mengusir atau menyingkirkan orang (saat jalan). Saya tidak suka,” tegasnya.

Tidak hanya soal protokoler. Di rumah, meski disediakan ajudan, Gus Yasin mengaku masih mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri, mulai dari mencuci piring hingga mencuci pakaian.

Tugas Pemerintah Bukan Sekadar Urusan Administrasi

Kepada para pejabat di lingkungan kerjanya, Gus Yasin berpesan agar pelayanan kepada masyarakat dilakukan dengan tulus. Warga, menurutnya, harus merasa nyaman dengan pemerintah, bukan takut atau segan.

“Tugas kita sebagai pemerintah bukan hanya soal administrasi, tapi memastikan masyarakat tenang dan bisa tercukupi kebutuhannya. Masuk ke pasar untuk memastikan harga stabil agar rakyat bisa makan, itu adalah bagian dari takwa kita sebagai pelayan masyarakat,” jelas Gus Yasin.

Ukuran keberhasilan seorang pemimpin, menurutnya, bukan pada kemegahan protokoler yang mengiringinya. Melainkan seberapa dekat dan berguna ia bagi orang-orang di sekitarnya.

Konsep kepemimpinan yang disampaikan Gus Yasin dalam forum pengajian ini menjadi bagian dari gaya komunikasi publiknya yang kerap menyisipkan nilai-nilai keagamaan dalam urusan pemerintahan. Majlis Ta’lim Nurul Qolbi sendiri merupakan salah satu forum keagamaan yang rutin menghadirkan tokoh pemerintahan Jawa Tengah dalam kegiatan keagamaan dan silaturahim seperti halalbihalal pascalebaran.

Penulis: Indah Lestari
Editor: Ratna Dewi