Internasional

Trump Siap Fokus Perundingan Ukraina-Rusia Setelah Kesepakatan Iran, Eropa Khawatir Terpinggirkan

4
×

Trump Siap Fokus Perundingan Ukraina-Rusia Setelah Kesepakatan Iran, Eropa Khawatir Terpinggirkan

Sebarkan artikel ini

Teras News — Di sela-sela KTT G7 di Prancis, Selasa (16/6/2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan Washington akan mengalihkan perhatian diplomatiknya ke konflik Rusia-Ukraina begitu urusan dengan Iran tuntas. Pernyataan itu disampaikan setelah Trump bertemu secara terpisah dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky — dua pemimpin yang, menurut Trump, sama-sama membuka diri terhadap kemungkinan kesepakatan damai.

“Sekarang setelah [perang Iran] ini selesai, kita akan fokus pada [konflik Ukraina] dan melihat apakah kita bisa menyelesaikannya,” kata Trump kepada wartawan, merujuk pada nota kesepahaman yang ditandatanganinya pada Jumat pekan sebelumnya.

Tiga Putaran Perundingan, Belum Ada Kesepakatan Damai

Rusia, Ukraina, dan AS telah menyelesaikan tiga putaran perundingan sejak hubungan diplomatik Washington-Moskow kembali mencair setelah bertahun-tahun beku di era Presiden Joe Biden. Ketiga putaran itu mencatat sejumlah kemajuan: pertukaran tahanan dalam jumlah besar, pemulangan jenazah tentara yang gugur, serta pertukaran memorandum perdamaian antara pihak-pihak terkait.

Kesepakatan damai penuh belum tercapai. Penghalang terbesar tetap tuntutan Moskow agar pasukan Ukraina ditarik dari wilayah Donbass, sebuah tuntutan yang hingga kini belum menemukan titik temu dengan Kiev.

Putaran keempat yang semula dijadwalkan pada Maret akhirnya tertunda setelah Washington mengalihkan fokus ke konflik Iran. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut kondisi itu sebagai “jeda situasional” sambil menunggu keterlibatan kembali AS.

Eropa Khawatir Posisinya Dikesampingkan

Prospek kembalinya negosiasi langsung Washington-Moskow justru memicu kegelisahan di kalangan pejabat Uni Eropa. Kekhawatiran utama mereka: Eropa kembali terpinggirkan dari meja perundingan yang menentukan nasib kawasan tersebut.

Satu diplomat Uni Eropa bahkan sempat melontarkan pernyataan yang terkesan ambivalen kepada Politico. “Terganggunya perhatian Trump bukanlah hal yang buruk,” ujarnya, sinyal bahwa sebagian pejabat Eropa justru lebih nyaman selama Washington sibuk di tempat lain.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengambil posisi lebih tegas. Ia menegaskan Eropa tidak bisa dikeluarkan dari proses penyelesaian konflik, mengingat besarnya kontribusi kawasan tersebut kepada Ukraina melalui bantuan militer dan ekonomi.

“Negosiasi yang tepat adalah negosiasi di mana Ukraina dan Rusia duduk bersama di meja perundingan, dan Eropa serta Amerika berada di pihak mereka,” kata Macron kepada televisi TF1.

Donbass, Ganjalan Utama yang Belum Terpecahkan

Donbass adalah kawasan di timur Ukraina yang mencakup wilayah Donetsk dan Luhansk. Rusia mengklaim wilayah ini sebagai bagian dari aneksasinya sejak 2022, sementara Ukraina menolak keras setiap pengakuan atas klaim tersebut. Tuntutan penarikan pasukan Ukraina dari Donbass menjadi salah satu titik buntu paling keras dalam tiga putaran perundingan yang sudah berlangsung.

Dengan putaran keempat yang masih menggantung dan Trump baru saja menyatakan akan segera mengalihkan fokus ke konflik ini, semua pihak kini menunggu apakah momentum yang sempat terbangun di tiga putaran sebelumnya masih bisa diselamatkan.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Surya Dharma