Internasional

Seperlima Pasokan Minyak Dunia di Ujung Tanduk, Iran Ancam Blokir Selat Hormuz Tanpa Izin

8
×

Seperlima Pasokan Minyak Dunia di Ujung Tanduk, Iran Ancam Blokir Selat Hormuz Tanpa Izin

Sebarkan artikel ini

Teras News — Tiga kapal tanker asing dipaksa berbalik arah. Itu yang terjadi di Selat Hormuz, jalur sempit penghubung Teluk Persia dan Laut Arab yang setiap harinya menanggung lalu lintas seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeluarkan peringatan keras pada 27 Juni 2026.

Insiden pembalikan kapal itu terjadi sehari setelah harga minyak global anjlok lebih dari 3 persen pada 26 Juni. Televisi pemerintah Iran melaporkan kejadian tersebut tanpa merinci identitas kapal maupun negaranya, namun pesannya terang: Iran tidak akan membiarkan kapal mana pun melintas tanpa sepengetahuan mereka.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan posisi Teheran secara blak-blakan. “Pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz tidak dapat dijamin di bawah pengaturan yang ambigu, rute paralel, atau pengambilan keputusan yang tidak memperhitungkan peran Iran,” tulisnya di platform X, dikutip dari Reuters.

Pernyataan itu merespons langsung deklarasi bersama Amerika Serikat dan enam negara Timur Tengah yang menolak klaim Iran soal hak memungut biaya dari kapal-kapal yang melintas di Hormuz. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang baru merampungkan kunjungan ke kawasan tersebut pada 25 Juni, bersama Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menyerukan “navigasi yang bebas, tanpa syarat, dan tanpa hambatan” di selat itu.

Rubio menyampaikan peringatan serupa: jika Iran mengancam atau menghalangi kapal di Selat Hormuz, masalah besar akan muncul. Washington pun bergerak cepat. “Presiden (Donald) Trump telah menegaskan bahwa Iran tidak boleh menghambat kelancaran lalu lintas di Selat Hormuz,” kata seorang pejabat pemerintah AS, seraya menambahkan pihaknya masih memeriksa laporan insiden pembalikan kapal tanker tersebut.

Kementerian Luar Negeri Iran membalas pada 26 Juni dengan menyatakan bahwa kehadiran militer AS di Timur Tengah justru merupakan sumber ketidakamanan dan perpecahan di kawasan itu sendiri.

Di tengah ketegangan yang belum mereda, ada tanda-tanda kegiatan ekonomi mulai pulih. Saudi Aramco kembali memuat minyak mentah di terminal Ras Tanura, pelabuhan minyak terbesar di dunia yang berlokasi di Arab Saudi, pada 26 Juni setelah terhenti hampir empat bulan. Pengiriman pupuk melalui Hormuz juga meningkat, meredam sebagian kekhawatiran akan lonjakan harga pangan global akibat penutupan selat berkepanjangan.

Ketegangan ini tumbuh dari perbedaan penafsiran atas kesepakatan sementara antara AS dan Iran yang masih kabur batas-batasnya, sementara AS dan sekutu regionalnya menuntut kesepakatan permanen yang turut mencakup penanganan program rudal balistik, drone, dan dukungan Tehran terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan.

Penulis: Surya Dharma
Editor: Arif Budiman