Teras News — Satu pesawat jet jumbo Boeing 747 senilai ratusan juta dolar — milik pemerintah Qatar — kini resmi menjadi Air Force One, pesawat kepresidenan Amerika Serikat. Konversi itu dirampungkan pada Jumat (19/6/2026), ketika Presiden Donald Trump secara langsung memamerkan armada barunya kepada publik.
Tampilan luarnya jauh dari kesan pesawat kepresidenan AS yang selama ini dikenal. Warna biru telur asin khas era Kennedy, yang sudah menjadi identitas Air Force One sejak dekade 1960-an, kini ditanggalkan sepenuhnya. Sebagai gantinya, perut pesawat dicat biru tua dengan garis merah memanjang di atasnya. Bagian ekor dihiasi bendera Amerika Serikat berukuran sangat besar, sementara sisi kiri pesawat — tempat presiden naik — menampilkan stempel resmi kepresidenan.
Hadiah Qatar yang Tuai Pertanyaan Etika dan Legalitas
Pemerintah AS menerima jet mewah ini dari Qatar pada tahun lalu. Penerimaan hadiah bernilai sangat tinggi dari pemerintah asing itu langsung memantik perdebatan di kalangan pakar hukum dan etika pemerintahan, terutama soal apakah tindakan tersebut sesuai dengan konstitusi dan undang-undang antikorupsi Amerika Serikat. Perdebatan itu belum sepenuhnya reda hingga pesawat resmi dioperasikan.
Baca Juga:
Trump sebelumnya berjanji tidak akan memakai jet tersebut untuk kepentingan pribadi setelah masa jabatannya berakhir. “Pesawat ini akan disumbangkan ke perpustakaan kepresidenan di masa mendatang,” tegasnya, merespons kritik yang terus mengalir.
Terbang Perdana Saat Perayaan Kemerdekaan 4 Juli
Debut resmi di udara dijadwalkan bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. Air Force One baru itu akan melakukan terbang lintas pada 4 Juli — momen yang dipilih Trump untuk memperkenalkan pesawat ini kepada rakyat Amerika secara dramatis.
Pesawat ini bersifat sementara. Fungsinya sebagai “jembatan” operasional sampai Boeing menyelesaikan pesawat kepresidenan yang dipesan langsung dan dijadwalkan tiba pada 2028. Proyek pesawat kepresidenan baru dari Boeing itu sendiri sudah mengalami berbagai keterlambatan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya mendapat kepastian jadwal pengiriman.
Angkatan Udara AS memastikan bahwa modifikasi pada jet Qatar dilakukan dengan pendekatan teknik yang memprioritaskan kapabilitas inti keamanan. Standar keamanan ketat tetap menjadi syarat mutlak bagi pesawat mana pun yang ingin menyandang sebutan Air Force One, yakni sebutan yang secara teknis merujuk pada pesawat Angkatan Udara AS mana saja yang sedang membawa presiden di dalamnya.
Dengan tampilan baru dan asal-usul yang kontroversial, pesawat ini kemungkinan akan terus memicu sorotan publik hingga penggantinya yang dipesan dari Boeing benar-benar hadir dua tahun lagi.
Editor: Surya Dharma