Teras News — Satu peringatan keras datang dari Taman Wengker, Ponorogo: TPA (tempat pemrosesan akhir) sampah di kabupaten itu terancam kelebihan beban jika warga tidak segera mengubah kebiasaan membuang sampah tanpa memilah. Peringatan itu disuarakan langsung oleh Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Kamis (18/6/2026).
“TPA akan kelebihan beban kalau kita tidak menerapkan tata kelola sampah yang benar,” kata Bunda Lis, sapaan akrab Lisdyarita, di hadapan peserta peringatan yang mengusung tema Saatnya Bekerja untuk Iklim.
Darurat Sampah Berawal dari Perilaku Rumah Tangga
Menurut Bunda Lis, akar masalah bukan di TPA atau di sistem pengangkutan. Masalah bermula jauh lebih awal, di dapur dan halaman rumah masing-masing warga. “Penanganan sampah harus dimulai dari hulu, yaitu dari rumah tangga. Pilah sampah sesuai jenisnya sebelum membuangnya ke tempat penampungan sementara,” pintanya.
Baca Juga:
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Ponorogo, Sapto Djatmiko Tjipto Rahardjo, menjelaskan persoalan lebih teknis. Menurutnya, lambatnya penguraian limbah menjadi biang penumpukan sampah di kabupaten itu. “Persoalannya lebih pada lambatnya penguraian limbah yang berujung pada penumpukan karena minimnya pemilahan sampah,” jelas Sapto.
Ponorogo kini menghadapi situasi yang oleh pemerintah daerah sendiri disebut sebagai darurat sampah. Pembangunan TPA Mrican Baru sudah masuk dalam rencana, namun Sapto menegaskan infrastruktur baru itu bukan satu-satunya jawaban. Sistem open dumping (pembuangan terbuka tanpa pengelolaan lanjutan) yang selama ini dipakai akan ditinggalkan. “Yang tidak kalah penting adalah mengoptimalkan kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik sejak dari tingkat rumah tangga,” ujarnya.
Bunda Lis Serukan Pertobatan Ekologis
Di luar urusan teknis persampahan, Bunda Lis membawa pesan yang lebih luas kepada warga Ponorogo. Ia menyerukan apa yang ia sebut sebagai pertobatan ekologis, sebuah sikap sadar untuk menahan diri dari perilaku merusak alam. “Pertobatan ekologis berarti menahan diri dari perilaku yang dapat merusak alam. Manusia harus merawat lingkungan karena alam akan memberikan manfaat apabila dijaga dengan baik,” katanya.
Gerakan mengurangi produksi sampah dan menanam pohon secara masif masuk dalam daftar aksi nyata yang ia dorong. Keduanya, menurut Bunda Lis, merupakan wujud konkret dari sikap pertobatan ekologis yang ia serukan.
Sapto mengingatkan satu hal penting: pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Penyelesaian darurat sampah membutuhkan keterlibatan semua pihak, dari tingkat RT hingga rumah tangga terkecil. “Permasalahan sampah ini harus kita selesaikan bersama-sama,” tegasnya.
Dengan TPA yang mendekati batas kapasitas dan sistem pengelolaan yang masih bergantung pada kebiasaan warga, Ponorogo kini menunggu apakah seruan dari Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini benar-benar mengubah cara masyarakat memperlakukan sampah di rumah masing-masing.
Editor: Ratna Dewi