Berita

Surabaya Vaganza dan Festival Rujak Uleg Masuk KEN 2026, Branding Kota Pahlawan Naik Kelas

11
×

Surabaya Vaganza dan Festival Rujak Uleg Masuk KEN 2026, Branding Kota Pahlawan Naik Kelas

Sebarkan artikel ini

Teras News — Warga Surabaya kini tidak sekadar menonton perayaan ulang tahun kota, mereka menjadi bagian dari strategi besar yang menjangkau skala nasional. Dua agenda unggulan kota, Festival Rujak Uleg dan Surabaya Vaganza, resmi masuk dalam kurasi Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 — pengakuan dari pemerintah pusat bahwa event-event ini bukan lagi sekadar pesta lokal.

Pengakuan itu datang bersamaan dengan peringatan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733. Di sejumlah ruas jalan utama, suasana berubah ketika iring-iringan kendaraan hias melintas di tengah kerumunan warga. Aroma rujak cingur bercampur dengan cahaya parade lampu Surabaya Vaganza, mengubah ruang kota menjadi panggung terbuka yang bisa dinikmati semua kalangan.

Rujak Cingur Jadi Simbol, Parade Lampu Jadi Daya Tarik Visual

Festival Rujak Uleg bukan sekadar ajang makan bersama. Kuliner khas Surabaya ini membawa pesan tentang keberagaman budaya yang melebur dalam satu sajian, dan itulah yang membuatnya punya daya tarik simbolis sebagai ikon kota.

Surabaya Vaganza, dengan konsep parade cahaya di malam hari, menawarkan pengalaman berbeda. Ribuan lampu menghiasi kendaraan hias yang melintas di jalan-jalan kota, menciptakan tontonan yang tidak mudah dilupakan oleh siapa pun yang hadir.

Pemerintah Kota Surabaya secara sadar merancang HJKS ke-733 bukan sebagai seremonial tahunan biasa. Agenda ini diposisikan sebagai instrumen city branding yang terencana, dengan dua festival tersebut sebagai ujung tombaknya.

UMKM Ikut Merasakan Manfaat Ekonomi

Strategi ini tidak berhenti pada citra kota. Program Surabaya Shopping Festival digulirkan untuk mendorong perputaran ekonomi di pusat perdagangan. Kolaborasi dengan sektor transportasi dan perbankan membuka akses lebih mudah bagi pengunjung, mulai dari tur kota hingga promo tiket objek wisata.

Yang menarik dari desain program ini adalah keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di setiap ajang. Artinya, perputaran uang tidak berhenti di level bisnis besar, tetapi mengalir langsung ke pedagang dan pelaku usaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi kota.

Kota-kota besar di Indonesia memang berlomba menggelar festival untuk mendatangkan wisatawan. Namun tidak semua berhasil membangun identitas yang bertahan lama. Pembeda utamanya terletak pada integrasi, yakni apakah sebuah event terhubung dengan ekosistem ekonomi lokal, budaya, dan infrastruktur pariwisata yang sudah ada, atau justru berdiri sendiri tanpa keterkaitan.

Masuknya dua event Surabaya ke dalam KEN 2026, sebagaimana dilaporkan Antara, menunjukkan bahwa pendekatan terintegrasi yang diterapkan kota ini mulai mendapat perhatian dari tingkat nasional. Kurasi KEN sendiri merupakan program Kementerian Pariwisata untuk mendorong event-event daerah berkualitas tinggi agar bisa dipromosikan secara lebih luas.

Tantangan berikutnya adalah menjaga agar identitas kota yang sedang dibangun ini tidak berhenti sebagai euforia sesaat. Konsistensi antara satu perayaan dengan perayaan berikutnya, serta keberlanjutan manfaat ekonominya bagi masyarakat, akan menentukan apakah Surabaya berhasil menempatkan dirinya sebagai destinasi yang benar-benar diperhitungkan di peta pariwisata nasional.

Penulis: Indah Lestari
Editor: Surya Dharma