Teras News — Rabu (17/6), di Jakarta, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto menyerukan percepatan transisi energi menuju Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebagai respons atas gejolak harga minyak global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Menurutnya, ketergantungan Indonesia pada impor minyak mentah, BBM, dan LPG membuat anggaran subsidi energi terus rentan terhadap fluktuasi pasar internasional.
Sugeng menyebut salah satu akar masalahnya ada di dalam negeri sendiri. Indonesia duduk di atas 68 cekungan geologi yang berpotensi mengandung cadangan migas, namun sebagian besar belum tersentuh eksplorasi serius. “Indonesia memiliki 68 cekungan yang berpeluang untuk digali menjadi sumber migas potensial,” kata Sugeng dalam dialog yang ditayangkan Squawk Box CNBC Indonesia, Rabu (17/6).
Eksplorasi Migas Butuh Investasi Besar dan Teknologi Tinggi
Persoalannya bukan semata soal kemauan. Eksplorasi migas dikenal sebagai salah satu sektor dengan profil risiko tertinggi di industri energi, membutuhkan modal jumbo dan teknologi yang tidak murah. Inilah yang membuat investor kerap berpikir dua kali sebelum masuk.
Baca Juga:
Sugeng mendorong pemerintah untuk memperkuat ekosistem investasi di sektor ini agar lebih menarik bagi investor, baik domestik maupun asing. Penguatan cadangan migas aktual, kata dia, sekaligus berfungsi sebagai penyangga ketika harga atau pasokan energi global kembali bergejolak.
EBT Bukan Pilihan, Tapi Keharusan
Sugeng juga menegaskan bahwa percepatan bauran EBT bukan sekadar agenda lingkungan. Ini soal ketahanan fiskal. Subsidi BBM dan LPG menguras APBN setiap tahun, dan beban itu membengkak setiap kali harga minyak dunia naik. Dengan memperbesar porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional, Indonesia bisa memangkas ketergantungan pada impor sekaligus menstabilkan pengeluaran subsidi dalam jangka panjang.
Indonesia memiliki sumber daya EBT yang besar, mulai dari panas bumi, energi surya, angin, hingga air. Pemanfaatan sumber-sumber ini secara optimal dinilai bisa berjalan beriringan dengan upaya mendongkrak produksi migas domestik, bukan saling menggantikan.
Pernyataan Sugeng disampaikan dalam dialog bersama Commodity Expert CNBC Indonesia Research, Emanuella Bungasmara Ega Tirta. Isu gejolak harga minyak dan dampaknya terhadap subsidi energi nasional kembali mencuat seiring volatilitas pasar komoditas global yang masih berlanjut hingga pertengahan 2026 ini.
Editor: Ratna Dewi