Teras News — Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menghadiri pemutaran perdana film Buya Hamka III di bioskop kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (20/4). Kehadiran itu sekaligus menjadi momentum bagi Pemprov DKI untuk mengumumkan rencana pembentukan Jakarta Film Commission pada 22 Juni 2026.
Rano menegaskan bahwa dukungan terhadap film bertema sejarah tidak bisa berhenti di soal anggaran. Ruang apresiasi — mulai dari pemutaran hingga promosi — sama pentingnya agar karya sineas benar-benar sampai ke tangan penonton muda.
“Film seperti ini harus kita dukung bersama, bukan hanya secara finansial, tetapi juga dengan memberi perhatian dan ruang agar generasi muda memahami sejarah serta mengenal tokoh bangsa,” kata Rano dalam keterangannya, Selasa (22/4).
Baca Juga:
Jakarta Film Commission Ditarget Berdiri 22 Juni 2026
Pemprov DKI Jakarta, bersama jajaran pejabat dan BUMD, turut hadir dalam acara screening tersebut. Kehadiran kolektif ini disebut sebagai bentuk nyata komitmen pemerintah daerah terhadap industri perfilman nasional.
Jakarta Film Commission dirancang sebagai lembaga yang memperkuat posisi ibu kota sebagai kota sinema berskala internasional. Pemprov DKI mengklaim telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk mitra dari luar negeri.
“Jakarta akan menjadi kota sinema. Kami telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk internasional. Ini menunjukkan potensi besar Jakarta dalam industri kreatif, khususnya perfilman,” ujar Rano.
Rano menargetkan Jakarta kelak menjadi tuan rumah berbagai agenda perfilman internasional, sekaligus ruang tumbuh bagi karya sinema nasional.
Buya Hamka III Dinilai Penting untuk Literasi Sejarah Generasi Muda
Film Buya Hamka III mengangkat sosok Haji Abdul Malik Karim Amrullah — ulama, sastrawan, dan tokoh nasional Indonesia yang dikenal luas dengan nama Buya Hamka. Rano menyebut film ini lahir dari proses produksi yang panjang dan penuh risiko.
“Film ini dibuat melalui perjalanan panjang. Sejak awal, produser sudah memahami risikonya. Namun, yang terpenting adalah bagaimana generasi muda dapat mengenal Buya Hamka sebagai tokoh panutan,” kata Rano.
Penguatan karakter generasi muda, menurut Rano, bisa dibangun lewat berbagai medium — termasuk film yang mampu menyampaikan nilai kehidupan, keteladanan, dan semangat kebangsaan secara lebih dekat dibanding teks buku pelajaran.
Dilansir dari laporan Antara.
Berita Terkait
Editor: Arif Budiman