Teras News — Banda Aceh — Dua pesan. Itu yang disebut KH Abdussalam Shohib, atau akrab disapa Gus Salam, sebagai alasan utama dirinya maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung 1–5 Agustus 2026. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Gus Salam saat bersilaturahmi dengan pengurus PWNU Aceh dan Cabang se-Aceh di sela Musyawarah Kerja Wilayah NU Aceh, di Banda Aceh.
Perintah itu datang dari sesepuh KH Nurul Huda Djazuli, ulama yang akrab disapa Kiai Da, dalam sebuah pertemuan di Malang beberapa waktu lalu. Kiai Da menyampaikan langsung kepada Gus Salam agar bersedia menjadi pemimpin organisasi yang menaungi puluhan juta warga nahdliyin itu.
“Kamu sebagai santri. Kamu juga mengabdi di NU sekarang. Harus ikhtiar menjadi pemimpin di Muktamar yang akan datang,” kata Gus Salam, mengulangi ucapan Kiai Da di hadapan pengurus PWNU Aceh.
Baca Juga:
Dua tugas utama dititipkan Kiai Da kepada Gus Salam. Pertama, membawa PBNU ke kondisi lebih rukun, kompak, dan bersatu, termasuk melakukan rekonsiliasi secara menyeluruh. Kedua, memastikan tata kelola organisasi benar-benar menjaga nilai-nilai pesantren sebagai identitas inti NU. “Dua pesan utama itu yang beliau sampaikan kepada kami. Dan itu tidak hanya sekali,” ujar Gus Salam.
Dorongan Kiai Da muncul dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi internal PBNU. Gus Salam mengungkapkan, sang guru merasa sedih menyaksikan konflik terbuka yang terjadi di antara pengurus. “Beliau sangat sedih, dan prihatin melihat adanya konflik terbuka di pengurus PBNU,” kata Gus Salam.
Awalnya Gus Salam ragu menerima amanat itu. Ia bahkan sempat mempertanyakan ulang kebenaran perintah tersebut kepada pendamping Kiai Da, karena merasa diri belum layak. “Saya sendiri mengatakan saya tidak pantas, maka saya kemudian meminta kepastian lagi kepada pendamping beliau. Apakah benar ini meminta saya untuk ikhtiar di muktamar ini. Apakah tidak salah? Dan ternyata memang itu dari beliau,” ungkapnya.
Setelah keyakinan itu bulat, Gus Salam mulai bergerak dengan mendatangi para sesepuh dan pengurus NU di berbagai daerah. “Maka kemudian yang pertama untuk menuju kebersamaan, kekompakan, kami kemudian melakukan sowan kepada semua stakeholder yang ada di Nahdlatul Ulama, baik kepada sesepuh maupun pengurus. Karena sudah mendapatkan restu, kita akan lakukan rekonsiliasi total,” tegasnya.
Muktamar ke-35 NU telah ditetapkan pada 1–5 Agustus 2026 melalui Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2026, meski lokasi penyelenggaraannya hingga kini belum ditentukan.
Berita Terkait
Editor: Arif Budiman