Teras News — Pemerintah Kota Surabaya meluncurkan buku Bung Karno: Aku Arek Suroboyo dan merencanakannya sebagai bahan pembelajaran resmi bagi siswa SD dan SMP di kota tersebut. Buku ini menyoroti masa kecil Soekarno di Surabaya, kota kelahirannya pada 6 Juni 1901, jauh sebelum ia dikenal sebagai Presiden Pertama Republik Indonesia.
Buku setebal itu ditulis oleh empat penulis: Purnawan Basundoro, Samidi, Yayan Indrayana, dan Kukuh Yudha Karnanta. Keempatnya membingkai Soekarno bukan dari podium proklamasi, melainkan dari gang-gang Surabaya tempat seorang anak bernama Koesno Sosrodihardjo tumbuh dan membentuk watak kebangsaannya.
Peluncuran buku ini beriringan dengan pameran bertajuk “Aku Arek Suroboyo” yang digelar di ruang bawah Alun-Alun Surabaya pada Juni 2026. Pameran itu menghadirkan foto, arsip, film, dan jejak kehidupan Soekarno semasa tinggal di Kota Pahlawan.
Baca Juga:
Selama ini narasi tentang Soekarno mayoritas berdiri di atas panggung nasional: pembaca teks proklamasi, penggali Pancasila, orator ulung, dan pemimpin gerakan antikolonial. Semua itu mengaburkan satu dimensi yang lebih personal — bahwa gagasan-gagasan besar itu tumbuh dari lingkungan nyata, dari keluarga, sekolah, pergaulan, dan pergulatan sosial sehari-hari di Surabaya.
Rencana menjadikan buku ini bahan ajar di jenjang SD dan SMP membuka peluang sekaligus pekerjaan rumah bagi Pemkot Surabaya. Anak-anak Surabaya berpotensi tidak lagi sekadar menghafal nama Bung Karno dari halaman buku pelajaran nasional, tetapi menemukan keterkaitan langsung antara tokoh itu dengan kota tempat mereka tinggal. Tantangannya terletak pada cara pengajaran: jika buku diposisikan sebagai bahan hafalan baru, semangat di balik penerbitannya bisa hilang sebelum sampai ke tangan pembaca muda.
Berita Terkait
Editor: Arif Budiman