Teras News — Hampir empat bulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran pada akhir Februari 2026, posisi diplomatik China di panggung internasional justru menguat. Beijing berhasil menempatkan diri sebagai pendukung perdamaian sekaligus menjaga ketahanan ekonominya di tengah krisis energi yang dipicu konflik tersebut.
“Saya ingin berterima kasih kepada China, Presiden Xi … dia tetap netral, benar-benar netral, dan saya menghargainya,” kata Presiden AS Donald Trump dalam konferensi pers di sela-sela KTT G7 di Prancis.
Pemerintahan Iran Bertahan, Washington Hadapi Pertanyaan soal Efektivitas Intervensi
Ketika bom-bom AS dan Israel mulai menghantam Iran pada akhir Februari, para pemimpin China sempat menghadapi skenario yang mereka anggap serius: jatuhnya pemerintahan sekutu mereka di Teheran, mirip dengan yang terjadi di Venezuela beberapa pekan sebelumnya. Kekhawatiran itu tidak terbukti.
Baca Juga:
AS dan Iran akhirnya mencapai kesepakatan sementara lewat serangkaian perundingan damai. Pemerintahan Iran tetap bertahan. Konflik itu justru memunculkan pandangan luas bahwa perang tersebut memperlihatkan batas-batas kekuatan Amerika Serikat.
Proposal Perdamaian Empat Poin Xi Jinping Mendapat Sorotan
China mengambil posisi yang konsisten selama konflik berlangsung: mendorong penyelesaian diplomatik tanpa terlibat dalam aksi militer. Presiden Xi Jinping mengumumkan proposal perdamaian empat poin pada April lalu, dan langkah itu kemudian dikutip berulang kali sebagai kontribusi Beijing dalam meredam ketegangan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyambut baik tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran pada Minggu (21/6/2026), seperti dilaporkan CNN International.
“China siap memainkan peran aktif dalam memulihkan perdamaian dan ketenangan di Timur Tengah,” kata Lin.
Ketika ditanya apakah Beijing terlibat langsung dalam tercapainya kesepakatan itu, Lin tidak memberikan konfirmasi spesifik. Ia hanya menyebut China telah bekerja tanpa henti untuk mendorong berakhirnya perang.
Trump Akui China Tidak Lawan Blokade Laut AS terhadap Pelabuhan Iran
Apresiasi Trump kepada Xi bukan tanpa dasar konkret. Trump merujuk pada keputusan Beijing yang tidak menggunakan kekuatan angkatan lautnya untuk menentang blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
“Mereka tidak melakukan itu. Presiden Xi membantu saya. Dia mencoba membantu, dan saya pikir dia mungkin membantu menyelesaikannya,” ujar Trump.
Pujian dari pemimpin negara yang selama ini bersaing sengit dengan Beijing di berbagai front, mulai dari perdagangan hingga teknologi, menjadi momen yang jarang terjadi dalam hubungan AS-China.
Ketahanan Energi China Lebih Baik dari Banyak Negara
Di luar arena diplomatik, ekonomi terbesar kedua dunia itu juga melewati krisis energi akibat konflik ini dengan lebih mulus dibanding banyak negara lain. Dua faktor utama menjadi penopangnya: cadangan minyak strategis yang besar dan percepatan transisi menuju energi hijau serta kendaraan listrik yang sudah dijalankan Beijing dalam beberapa tahun terakhir.
China terus menerima kunjungan berbagai pemimpin dunia selama periode konflik berlangsung. Posisi Beijing sebagai mitra dialog yang diterima oleh banyak pihak, termasuk negara-negara yang berseberangan secara ideologis, menjadi aset diplomatik tersendiri di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut.
Editor: Surya Dharma