Internasional

2.000 Gerai Starbucks Korea Tutup Serentak 22 Juni, Buntut Promosi ‘Tank Day’ yang Hina Tragedi Gwangju

15
×

2.000 Gerai Starbucks Korea Tutup Serentak 22 Juni, Buntut Promosi ‘Tank Day’ yang Hina Tragedi Gwangju

Sebarkan artikel ini

Teras News — Minggu, 22 Juni pukul 15.00 waktu setempat, lebih dari 2.000 gerai Starbucks di seluruh Korea Selatan tutup serentak. Bukan karena bencana atau gangguan operasional biasa, melainkan akibat sebuah kampanye pemasaran yang melecehkan salah satu peristiwa paling sakral dalam sejarah demokrasi Korea.

Pangkal masalahnya bermula pada 18 Mei, ketika tim pemasaran Starbucks Korea meluncurkan promosi tumbler seri “Tank” dengan nama kampanye “Tank Day”. Tanggal itu bukan tanggal biasa. Setiap 18 Mei, Korea Selatan memperingati tragedi Gwangju 1980, peristiwa berdarah di mana aparat militer menumpas gerakan pro-demokrasi dan menewaskan ratusan warga sipil. Peristiwa itu dianggap salah satu babak paling kelam sekaligus paling dihormati dalam perjalanan bangsa Korea.

Promosi tersebut tidak hanya salah waktu. Materi iklannya juga memuat slogan “hantaman di atas meja”, frasa yang sangat sensitif bagi warga Korea karena mengingatkan pada kasus kematian aktivis mahasiswa Park Jong-chul pada 1987. Kala itu, aparat menutupi kematian Park dengan klaim korban meninggal akibat terkejut saat petugas memukul meja selama interogasi.

Direktur Utama Dipecat, CEO Ikut Pelatihan Sejarah

Reaksi publik langsung meledak. Gelombang boikot menyapu berbagai daerah. Sejumlah pelanggan menghancurkan gelas dan tumbler Starbucks secara terbuka sebagai bentuk protes. Beberapa lembaga pemerintah menghentikan kerja sama dengan perusahaan tersebut.

Dampak finansialnya terasa cepat. Menurut laporan lembaga riset pasar IGAWorks, “Volume pembayaran dilaporkan sempat anjlok hingga 26% pada pekan pertama setelah kontroversi meletus, dan meskipun sempat menunjukkan tanda pemulihan sebesar 12,8% di awal Juni, angka transaksi tersebut masih berada 25% di bawah level normal sebelum krisis terjadi.”

Iklan ditarik hanya beberapa jam setelah tayang. Tapi langkah itu tidak cukup meredam kemarahan. Pada hari yang sama iklan dicabut, direktur utama Starbucks Korea langsung dicopot dari jabatannya.

Chung Yong-jin, Ketua Shinsegae Group sekaligus pemegang lisensi Starbucks Korea, tampil di konferensi pers nasional dan menyampaikan permintaan maaf sambil membungkuk tiga kali. Ia dijadwalkan hadir langsung dalam pelatihan sejarah bersama jajaran eksekutif pada 24 Juni.

AI Disebut Ikut Andil, Manajer Senior Abai Cek Materi

Investigasi internal mengungkap fakta yang memperparah citra perusahaan. Tim pemasaran menyusun slogan promosi itu dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Yang lebih mengejutkan, sejumlah manajer senior yang memberikan persetujuan diketahui tidak memeriksa materi kampanye secara menyeluruh sebelum diluncurkan.

Penutupan massal pada 22 Juni mencakup seluruh gerai, kecuali beberapa yang beroperasi di area bandara internasional. Selama penutupan, semua karyawan diwajibkan mengikuti pelatihan sejarah dan edukasi sensitivitas sosial. Kebijakan ini diperkirakan membuat perusahaan kehilangan pendapatan sekitar 2,1 miliar won atau setara Rp24,96 miliar.

Shinsegae menyatakan langkah ini diambil untuk memastikan kesalahan serupa tidak terulang. Penyelidikan hukum terhadap para petinggi perusahaan juga tengah berjalan. Kini publik Korea menanti apakah sanksi hukum itu akan berujung pada tuntutan resmi atau selesai di meja mediasi.

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Arif Budiman