Berita

Rintik Sedu di Makassar: Media Sosial Buat Literasi Muda Makin Terbuka

11
×

Rintik Sedu di Makassar: Media Sosial Buat Literasi Muda Makin Terbuka

Sebarkan artikel ini

Minggu sore di Makassar, penulis muda Nadhifa Allya Tsana — dikenal luas dengan nama pena Rintik Sedu — berbicara soal literasi generasi muda usai menghadiri wisata buku atau tour book di kota itu. Baginya, media sosial bukan ancaman bagi budaya baca. Justru sebaliknya.

“Saya melihat literasi ini semakin dekat dengan anak-anak muda dan media sosial lebih mendekatkan mereka,” kata Nadhifa kepada wartawan.

Dulu Sulit Cari Komunitas Baca, Kini Tinggal Scroll

Nadhifa mengingat masa-masa awal ia aktif menulis dan menggunakan Instagram. Menemukan komunitas dengan minat bacaan serupa bukan hal mudah. Forum diskusi sastra nyaris tidak terlihat di beranda digitalnya.

Kondisi itu kini berbalik. Platform digital membuka akses terhadap bacaan dan diskusi literasi jauh lebih lebar dari sebelumnya. Anak-anak muda kini menemukan ruang untuk membaca, berbagi, hingga mendebat karya sastra — semuanya lewat media sosial.

Nadhifa mencontohkan buku-buku yang ia baca di masa lalu, seperti Luka, Ronggeng, dan Dukuh Paruk, kini semakin sering muncul di berbagai platform digital, lengkap dengan ulasan dan diskusi dari para pembaca. “Hal ini menunjukkan bahwa karya sastra memiliki audiens yang luas dan terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi,” tuturnya.

Forum Buku Online Pertemukan Penulis dan Pembaca Langsung

Kehadiran forum diskusi buku di media sosial, menurut Nadhifa, membuka peluang besar. Penulis kini bisa terhubung langsung dengan pembaca tanpa perantara. Interaksi itu memperkaya perspektif keduanya sekaligus memperkuat ekosistem literasi yang lebih inklusif.

Perempuan kelahiran 1998 itu menekankan satu hal: kolaborasi. Literasi punya jalannya sendiri untuk kembali kepada tiap individu, tapi semangat berbagi tidak boleh berhenti di tangan satu orang.

“Sesama pembaca dan penulis itu harus sama-sama dalam kolaborasi dan tidak boleh disimpan,” ucap Nadhifa.

Ia berharap tren positif ini terus tumbuh sehingga budaya literasi di Indonesia semakin kuat, terutama di kalangan generasi muda yang kini semakin akrab dengan teknologi digital.

Dilansir dari laporan Antara.

Penulis: Ahmad Fauzan
Editor: Arif Budiman