Teras News — Dua pendekatan. Selama puluhan tahun, reward dan punishment menjadi tulang punggung sistem manajemen di hampir seluruh institusi dunia, mulai dari perusahaan multinasional, lembaga pendidikan, organisasi sosial, hingga instansi pemerintahan.
Cara kerjanya sederhana: penghargaan mendorong orang mencapai target, sementara hukuman menjaga disiplin dan kepatuhan. Kombinasi keduanya dianggap cukup untuk menggerakkan manusia dalam sebuah sistem.
Kebaikan sebagai Pendekatan Baru dalam Sistem Manajemen
Kini, pertanyaan mulai bermunculan di kalangan praktisi manajemen dan pendidikan: apakah dua kutub itu masih relevan? Sejumlah kajian dan praktisi mulai menunjuk pendekatan berbeda, yaitu menjadikan kebaikan (kindness) sebagai strategi utama dalam mengelola orang dan organisasi.
Baca Juga:
Kebaikan yang dimaksud bukan sekadar bersikap ramah. Pendekatan ini menekankan empati, kepercayaan, dan hubungan antarmanusia sebagai fondasi dalam membangun kinerja jangka panjang, bukan hanya kepatuhan jangka pendek.
Reward bekerja dengan cara memotivasi seseorang dari luar dirinya. Seseorang bekerja keras karena ada bonus, naik jabatan, atau pujian publik. Punishment, sebaliknya, menciptakan tekanan agar orang menghindari konsekuensi negatif. Keduanya efektif dalam jangka pendek, tetapi para peneliti perilaku organisasi mencatat bahwa motivasi yang lahir dari rasa takut atau harapan imbalan material cenderung rapuh saat tekanan eksternal itu hilang.
Dari Perusahaan hingga Ruang Kelas
Penerapan reward dan punishment tersebar luas. Di perusahaan, bentuknya adalah sistem bonus dan surat peringatan. Di sekolah, ada nilai rapor dan skorsing. Di lembaga pemerintahan, ada tunjangan kinerja dan sanksi administratif.
Pendekatan kebaikan menawarkan sesuatu yang berbeda. Ketika seseorang merasa diperlakukan dengan hormat, didengar, dan dipercaya, motivasinya tumbuh dari dalam. Kondisi ini yang oleh para psikolog disebut sebagai motivasi intrinsik, dan umumnya lebih tahan lama.
Organisasi yang mulai menggeser pendekatannya ke arah ini melaporkan perubahan pada iklim kerja dan relasi antaranggota tim. Bukan berarti aturan ditiadakan, tetapi cara menegakkannya berubah, lebih berbasis dialog dan pemahaman ketimbang sanksi semata.
Bukan Penggantian, Melainkan Pergeseran Prioritas
Penting dicatat bahwa perdebatan ini bukan soal menghapus reward dan punishment sepenuhnya. Struktur penghargaan dan konsekuensi tetap dibutuhkan dalam sebuah sistem yang terorganisasi. Yang bergeser adalah posisinya: dari alat utama menjadi pelengkap, sementara pendekatan berbasis kebaikan dan kepercayaan mengambil peran lebih sentral.
Pertanyaannya kini bukan lagi soal memilih satu di antara keduanya, melainkan bagaimana institusi, baik sekolah, kantor, maupun lembaga negara, merancang ulang sistem mereka agar manusia di dalamnya bergerak bukan karena takut atau iming-iming, tetapi karena mereka memang ingin.
Editor: Ratna Dewi