Teras News — 0,25% — angka itu disebut Bank Indonesia sebagai estimasi kontribusi kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamax dan Pertamax Turbo terhadap inflasi nasional. Risiko itu muncul bersamaan dengan dua ancaman lain yang tengah diwaspadai BI: eskalasi El-Nino dan rambatan gejolak geopolitik global yang memicu imported inflation (inflasi yang berasal dari luar negeri akibat kenaikan harga komoditas impor).
Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menyebut ada dua sinyal peringatan yang kini masuk radar bank sentral. Pertama, gejolak geopolitik global yang mendorong kenaikan harga minyak dan komoditas lainnya. Kedua, gangguan cuaca.
“Kedua alert yaitu gangguan cuaca,” kata Aida dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Kamis (18/6/2026).
Baca Juga:
El-Nino Ancam Panen Hortikultura di Indonesia Timur
Gangguan cuaca yang dimaksud Aida adalah intensitas El-Nino yang diprediksi memperparah musim kemarau. BI menilai kondisi ini dapat menekan produktivitas panen tanaman hortikultura di Indonesia Timur. Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali menyatakan pihaknya mengantisipasi dampak tersebut bersama 46 kantor perwakilan di seluruh daerah.
Koordinasi dilakukan melalui Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), serta program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
“Ini adalah guna menjaga pasokan kelancaran distribusi dan stabilitas harga pangan di berbagai daerah,” tegas Ricky dalam forum yang sama.
Untuk meredam risiko dari sisi pangan, BI memperkuat pasokan volatile food (bahan pangan dengan harga yang mudah bergejolak, seperti cabai dan bawang) lewat koordinasi TPID di setiap provinsi.
Gubernur BI: Inflasi 2026-2027 Masih Terkendali
Di tengah deretan risiko itu, Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan inflasi dua tahun ke depan tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan BI dan pemerintah.
“Itulah pertimbangan BI Rate sebagai langkah forward looking preemptive 2026-2027 dampak global inflasi terkendali. Tentu saja langkah itu sinergitas pusat-daerah,” ujar Perry.
Pernyataan Perry merujuk pada pendekatan kebijakan suku bunga acuan yang bersifat antisipatif, bukan reaktif terhadap tekanan inflasi yang sudah terjadi. Strategi ini umumnya dipakai bank sentral untuk menjaga ekspektasi inflasi masyarakat tetap stabil sebelum tekanan harga benar-benar terasa di lapangan.
Dengan tekanan dari tiga arah sekaligus, yakni cuaca ekstrem, harga energi global, dan penyesuaian harga BBM non-subsidi, BI menempatkan koordinasi lintas lembaga sebagai kunci utama penjagaan stabilitas harga hingga akhir tahun.
Editor: Arif Budiman