Internasional

Timnas Iran di Piala Dunia 2026: Mehdi Taremi Sebut Kondisi Tim ‘Seperti Bencana’, Visa Pemain Kedaluwarsa

14
×

Timnas Iran di Piala Dunia 2026: Mehdi Taremi Sebut Kondisi Tim ‘Seperti Bencana’, Visa Pemain Kedaluwarsa

Sebarkan artikel ini

Teras News — Rabu (17/6/2026) di Los Angeles, suasana pascalaga timnas Iran tidak kalah berat dari pertandingan itu sendiri. Setelah bermain imbang 2-2 melawan Selandia Baru, para pemain Iran menghadapi perjalanan pulang sejauh lima jam ke Tijuana, Meksiko, tempat mereka bermarkas, melewati antrean panjang pemeriksaan imigrasi tanpa sempat memulihkan tenaga. Bukan skenario ideal bagi tim yang baru saja berjibaku di lapangan.

Kapten tim, Mehdi Taremi, tidak menahan diri. “Semuanya seperti bencana bagi kami,” katanya kepada media internasional. Pernyataan itu menjadi cermin frustrasi yang sudah menumpuk sejak sebelum turnamen benar-benar dimulai.

Markas di Tijuana, Perjalanan Lima Jam Tiap Laga

Iran awalnya berencana memusatkan latihan di Arizona, Amerika Serikat. Rencana itu batal. Kekhawatiran soal visa dan keamanan memaksa federasi memindahkan base camp ke Tijuana, kota di sisi Meksiko yang berbatasan langsung dengan California. Konsekuensinya tidak ringan: setiap kali hendak berlatih atau bertanding di wilayah AS, seluruh rombongan tim harus melewati pos perbatasan dan menjalani pemeriksaan imigrasi yang memakan waktu.

Tim juga disebut tidak mendapat izin untuk tiba lebih awal di kota tuan rumah pertandingan, maupun menginap setelah laga guna pemulihan fisik. Langsung datang, bertanding, lalu kembali.

Persoalan visa bukan sekadar soal keterlambatan. Pemain sayap Mehdi Torabi bahkan dilaporkan visa-nya kedaluwarsa tepat seusai pertandingan karena ia hanya memperoleh dokumen masuk satu kali selama turnamen berlangsung. Artinya, setiap perjalanan lintas perbatasan berikutnya berpotensi menjadi masalah hukum.

Pelatih: Iran Tim Paling Tertindas di Piala Dunia 2026

Pelatih kepala Amir Ghalenoei memakai kata yang lebih tajam. Ia menyebut Iran sebagai tim “yang paling tertindas” di Piala Dunia 2026. Berbagai hambatan administratif dan logistik, menurutnya, telah menempatkan timnya dalam kondisi yang tidak sebanding dengan negara peserta lain.

Sebelum turnamen bergulir, pemerintah Iran sudah lebih dulu memprotes keputusan penyelenggara yang menarik jatah tiket resmi bagi suporter Iran hanya beberapa hari menjelang kick-off. Sejumlah staf pendukung dan jurnalis asal Iran juga gagal mengantongi visa masuk ke Amerika Serikat.

Kondisi ini terjadi di tengah proses normalisasi hubungan antara Washington dan Teheran yang belum tuntas. Ketegangan diplomatik antara kedua negara telah berlangsung selama puluhan tahun sejak Revolusi Iran 1979, dan meski ada sinyal-sinyal pendekatan, implementasinya di lapangan, termasuk urusan visa untuk turnamen olahraga, masih memunculkan gesekan nyata.

Iran Bukan Satu-satunya yang Kena Dampak

Kasus Iran masuk dalam daftar panjang keluhan terkait penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Seorang wasit asal Somalia dilaporkan ditolak masuk ke AS meski telah melengkapi dokumen yang diperlukan. Pemain, staf, dan suporter dari berbagai negara lain juga menghadapi pemeriksaan ketat, penundaan visa, hingga penolakan di pintu imigrasi.

Tim nasional Uruguay bahkan dilaporkan menjalani inspeksi intensif saat mendarat di Amerika Serikat, termasuk pemeriksaan menggunakan anjing pelacak narkoba dan detektor logam. Kondisi itu memantik kritik dari berbagai pihak di komunitas sepak bola internasional.

Iran masih punya dua laga tersisa di fase grup. Mereka dijadwalkan menghadapi Belgia di Los Angeles pada 21 Juni, lalu melawan Mesir di Seattle pada 26 Juni. Dengan markas di Tijuana dan urusan visa yang belum tuntas, perjalanan panjang melewati perbatasan itu tampaknya belum berakhir.

Penulis: Rizky Pratama
Editor: Ratna Dewi