Teras News — Jalur pelayaran internasional yang menanggung sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia bersiap dibuka kembali. Selat Hormuz, yang sempat menjadi titik ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, dijadwalkan beroperasi normal paling lambat 30 hari setelah nota kesepahaman kedua negara resmi ditandatangani.
Penandatanganan nota kesepahaman itu dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat (19/6), setelah Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi memastikan dokumen tersebut telah rampung. Rancangan nota kesepahaman yang dikutip kantor berita Iran, Mehr, menyebutkan bahwa kesepakatan ini tidak berhenti di level bilateral.
“Kesepakatan final akan disahkan melalui resolusi Dewan Keamanan PBB,” tulis Mehr mengutip isi rancangan nota kesepahaman tersebut.
Baca Juga:
AS Komitmen Tak Campuri Urusan Dalam Negeri Iran
Rancangan nota kesepahaman itu memuat sejumlah klausul yang melampaui isu nuklir. Washington berkomitmen untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri Iran dan menghormati kedaulatan Republik Islam Iran. Dua poin ini dipandang krusial bagi Teheran yang selama puluhan tahun menghadapi tekanan diplomatik dan sanksi ekonomi dari Amerika Serikat.
Proses pengesahan melalui Dewan Keamanan PBB menjadikan kesepakatan ini berbeda dari perjanjian bilateral biasa. Resolusi DK PBB bersifat mengikat secara hukum internasional dan berlaku bagi seluruh negara anggota PBB. Mekanisme ini dipilih untuk memberi jaminan tambahan bahwa komitmen kedua pihak tidak mudah dibatalkan secara sepihak.
Pembukaan Selat Hormuz dalam Tenggat 30 Hari
Klausul paling konkret dalam rancangan itu adalah soal Selat Hormuz. Pembukaan selat tersebut baru akan dilakukan dalam waktu 30 hari setelah nota kesepahaman ditandatangani oleh kedua pihak.
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi satu-satunya jalur laut bagi ekspor minyak dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Setiap gangguan di selat itu berdampak langsung pada harga energi global. Ketegangan di kawasan tersebut dalam beberapa waktu terakhir telah mendorong volatilitas harga minyak di pasar internasional.
Jika jadwal penandatanganan 19 Juni berjalan sesuai rencana, maka batas waktu pembukaan Selat Hormuz jatuh sekitar pertengahan Juli 2026. Proses pengesahan di Dewan Keamanan PBB kemungkinan berlangsung paralel dengan tahap implementasi awal di lapangan.
Kesepakatan ini datang setelah Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa perjanjian damai dengan Iran telah tercapai dan Selat Hormuz dinyatakan aman. Kini publik menunggu apakah penandatanganan di Swiss berjalan mulus dan resolusi DK PBB bisa segera digulirkan tanpa hambatan dari anggota tetap dewan.
Editor: Arif Budiman