Berita

Legislator Gerindra: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5 Persen tapi Bukan Berarti Tanpa Tekanan

12
×

Legislator Gerindra: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5 Persen tapi Bukan Berarti Tanpa Tekanan

Sebarkan artikel ini

Teras News — Minggu (14/6/2026), di tengah perdebatan publik soal arah ekonomi nasional, anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Azis Subekti, mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak narasi ekstrem dalam membaca kondisi ekonomi Indonesia. Bukan krisis, tapi juga bukan tanpa masalah.

Ruang publik belakangan terbelah. Satu kelompok melihat pelemahan rupiah dan koreksi pasar saham sebagai pertanda bahaya. Kelompok lain berargumen situasi aman karena pertumbuhan ekonomi masih terjaga. Azis menolak kedua cara pandang itu.

“Indonesia tidak sedang baik-baik saja dalam arti tanpa tantangan. Tetapi Indonesia juga tidak sedang menuju kehancuran. Yang kita hadapi adalah situasi kompleks yang membutuhkan pembacaan jernih,” kata Azis dalam keterangannya.

Pertumbuhan 5 Persen dan Surplus Neraca Dagang Jadi Penyangga

Azis menyebut sejumlah indikator yang menurutnya mencerminkan fondasi ekonomi yang masih berdiri. Pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5 persen. Inflasi relatif terkendali. Defisit fiskal masih dalam batas aman, cadangan devisa terjaga, neraca perdagangan mencatat surplus, dan peringkat investasi Indonesia tetap berada pada level investment grade (kelayakan investasi yang diakui lembaga pemeringkat internasional).

Angka-angka itu tidak ia gunakan untuk menutup mata terhadap tekanan yang ada.

Pelemahan rupiah, koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), perlambatan di beberapa sektor usaha, meningkatnya kehati-hatian konsumsi kelas menengah, biaya logistik yang tinggi, hingga tantangan produktivitas nasional, semua ia akui sebagai tekanan nyata. “Tekanan itu nyata dan tidak boleh diabaikan. Tetapi tekanan tersebut juga harus dibaca dalam konteks perubahan ekonomi global yang sedang terjadi,” ujarnya.

Arus Modal Asing Keluar dari Saham, tapi Masih Masuk ke Obligasi

Salah satu poin yang ia soroti adalah soal keluarnya sebagian dana asing dari pasar saham Indonesia. Bagi sebagian kalangan, tren ini dibaca sebagai tanda investor kehilangan kepercayaan. Azis tidak sependapat.

Ia menunjuk fakta bahwa pada saat yang sama, investor global masih menempatkan dananya pada Surat Berharga Negara (SBN) dan instrumen pendapatan tetap Indonesia.

“Kalau investor benar-benar melihat Indonesia menuju masalah besar, mereka tidak hanya keluar dari saham. Mereka juga akan meninggalkan obligasi. Faktanya tidak sesederhana itu,” katanya.

Dinamika semacam ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Ketegangan geopolitik global, perlambatan perdagangan dunia, ketidakpastian harga energi, tingginya suku bunga global, serta pergerakan arus modal internasional turut menekan banyak negara berkembang secara bersamaan. Azis menegaskan gejolak yang terjadi tidak sepenuhnya bersumber dari faktor domestik.

Pernyataan Azis muncul di tengah kekhawatiran publik yang sempat menguat setelah IHSG mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Dalam kondisi seperti ini, narasi di media sosial kerap bergerak lebih cepat dari data, dan Azis tampaknya ingin menarik rem itu sebelum kepanikan mendahului analisis.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Surya Dharma