Internasional

Trump Ancam Bom Iran Lebih Besar jika Negosiasi Gagal, Teheran Masih Tinjau Proposal AS

15
×

Trump Ancam Bom Iran Lebih Besar jika Negosiasi Gagal, Teheran Masih Tinjau Proposal AS

Sebarkan artikel ini

Teras News — Amerika Serikat dan Iran berada di titik negosiasi yang paling kritis dalam konflik yang berlangsung beberapa pekan terakhir. Presiden AS Donald Trump menyebut peluang kesepakatan damai dengan Teheran “sangat mungkin” tercapai, namun sekaligus memperingatkan serangan militer skala lebih besar akan dilanjutkan jika pembicaraan buntu.

“Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat baik selama 24 jam terakhir, dan sangat mungkin bahwa kami akan mencapai kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan pada Rabu (6/5/2026) waktu setempat, seperti dikutip AFP.

Trump: Perang Berakhir atau Bom Makin Besar

Nada Trump berubah cepat antara harapan dan ancaman. Ia menyebut perang hanya bisa selesai lewat satu syarat. “Jika Iran setuju untuk memberikan apa yang telah disepakati, perang akan berakhir,” ujarnya.

Tapi jika negosiasi gagal, Trump tidak main-main. “Jika tidak, pemboman akan dilanjutkan pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi,” tegasnya.

Pernyataan keras itu muncul setelah AS menghentikan sementara operasi militernya untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur laut sempit di antara Iran dan Semenanjung Arab yang menjadi salah satu titik paling vital dalam perdagangan minyak dunia. Penghentian itu dimaksudkan untuk memberi ruang bagi negosiasi setelah kebuntuan beberapa pekan.

Iran Belum Bersuara Resmi, Parlemen Tuding AS Menekan

Respons Teheran masih jauh dari hangat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan pihaknya belum mengambil posisi resmi atas proposal terbaru Washington.

“Rencana dan proposal AS masih dalam peninjauan,” kata Baqaei kepada media lokal. Iran akan menyampaikan posisi resminya kepada mediator Pakistan setelah seluruh pembahasan internal selesai.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, justru melancarkan tuduhan lebih keras. Ia menyebut AS sedang berupaya menghancurkan ketahanan dalam negeri Iran lewat berbagai jalur tekanan.

“Washington berupaya, melalui blokade angkatan laut, tekanan ekonomi, dan manipulasi media, untuk menghancurkan kohesi negara guna memaksa kami menyerah,” ujarnya.

Nota Satu Halaman dan Uranium Diperkaya

Di tengah saling ancam dan sinyal diplomasi yang bercampur aduk, media AS Axios melaporkan kedua negara hampir mencapai nota kesepahaman satu halaman yang dirancang untuk mengakhiri perang sekaligus membuka jalur menuju negosiasi nuklir yang lebih detail.

Trump bahkan mengklaim Iran nantinya akan menyerahkan uranium yang diperkaya kepada AS. Uranium diperkaya adalah bahan yang bisa digunakan untuk bahan bakar reaktor nuklir sipil maupun, pada tingkat pengayaan sangat tinggi, untuk senjata nuklir. Trump belum menjelaskan mekanisme penyerahan itu akan berjalan seperti apa.

Pasar keuangan global langsung bereaksi positif atas kemungkinan terobosan diplomatik itu. Bursa saham AS menguat dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq ditutup di rekor tertinggi baru.

Selat Hormuz Masih Tegang

Optimisme di pasar belum mencerminkan kondisi nyata di lapangan. Ketegangan di Selat Hormuz terus meningkat setelah kedua pihak saling menuding melakukan serangan terhadap kapal-kapal di jalur itu. Selat Hormuz merupakan titik perlintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga gangguan di kawasan ini langsung berdampak pada harga energi global.

Publik dan pasar kini menunggu satu hal: apakah Iran akan menyampaikan posisi resminya kepada mediator Pakistan, dan apakah itu cukup untuk meyakinkan Washington menahan laju eskalasi militer.

Penulis: Ahmad Fauzan
Editor: Surya Dharma