Berita

Kunjungi TPST Banyumas, Prabowo: Sampah Prioritas Nasional, Harus Terkendali 2-3 Tahun ke Depan

16
×

Kunjungi TPST Banyumas, Prabowo: Sampah Prioritas Nasional, Harus Terkendali 2-3 Tahun ke Depan

Sebarkan artikel ini

Teras News — Selasa (28/4/2026) siang, Presiden Prabowo Subianto menginjakkan kaki di Desa Kaliori, Banyumas, untuk meninjau langsung Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE). Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendampingi kunjungan tersebut.

Di hadapan Presiden, Kepala UPTD TPST Banyumas Edy Nugroho memaparkan cara kerja sistem yang ia sebut dari hulu hingga hilir. Banyumas menghasilkan timbulan sampah sebesar 738,80 ton per hari. Dari angka itu, 574,52 ton atau sekitar 77,76 persen sudah masuk jalur pengelolaan. Sisanya, sekitar 164 ton per hari, belum tersentuh sistem TPST.

“Sistem kami dari hulu sampai hilir, menuju waste to value, sampah jadi bernilai ekonomi,” kata Edy kepada Presiden.

Sampah Rumah Tangga Jadi Bahan Bakar Industri

Proses di TPST BLE dimulai dari pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Sampah yang sudah dipilah kemudian diolah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), yakni bahan bakar alternatif berbentuk pelet atau briket yang dibuat dari sampah padat non-organik yang dikeringkan dan dipadatkan. RDF lazim digunakan sebagai pengganti batu bara di industri semen dan pembangkit listrik.

Prabowo tidak sekadar mendengarkan. Ia langsung menyatakan dukungan penuh pemerintah pusat terhadap model Banyumas ini.

“Ini sangat efektif dan bisa menjadi contoh. Pemerintah pusat akan mendorong serta menurunkan bantuan langsung, agar sistem ini bisa kita perbaiki dan kembangkan,” ujar Prabowo.

Pernyataan Presiden tidak berhenti di situ. Ia menempatkan masalah sampah sebagai agenda prioritas yang tidak bisa ditunda. “Sampah adalah prioritas nasional. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, harus bisa kita kendalikan,” tegasnya.

Jateng Target Lampaui Batas Waktu Nasional

Gubernur Ahmad Luthfi mengungkapkan, ketertarikan Presiden pada pengembangan RDF di Jawa Tengah sudah terlihat jelas selama kunjungan berlangsung. Saat ini, tiga kabupaten di Jawa Tengah sudah mengoperasikan fasilitas RDF, sedangkan 13 kabupaten lainnya masih dalam proses pengembangan.

“Pak Presiden sangat tertarik. Saat ini ada 13 kabupaten yang masih dalam proses pengembangan RDF, sementara tiga kabupaten sudah operasional,” kata Luthfi.

Pemprov Jawa Tengah juga menggandeng empat pabrik semen sebagai pihak yang menampung hasil olahan sampah berbentuk RDF. “Kita punya empat pabrik semen sebagai offtaker. Ini jadi kekuatan kita,” jelas Luthfi.

Untuk wilayah dengan volume sampah besar seperti Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya, Pemprov menyiapkan konsep pengolahan sampah berskala regional.

Luthfi memasang target ambisius. Pemerintah pusat mematok 2029 sebagai tahun zero sampah secara nasional, tapi Jawa Tengah ingin lebih cepat. “Target nasional 2029 zero sampah. Jawa Tengah siap lebih cepat, tahun 2028 kita optimistis tercapai,” ujarnya.

Presiden Prabowo, menurut Luthfi, juga memberikan apresiasi terhadap kinerja Jawa Tengah secara keseluruhan. “Jawa Tengah dinilai sudah baik dan bisa jadi contoh bagi provinsi lain,” kata gubernur.

Model Banyumas kini menunggu tindak lanjut konkret dari janji bantuan langsung pemerintah pusat. Jika fasilitas serupa berhasil direplikasi di provinsi-provinsi lain, target pengendalian sampah nasional dalam dua hingga tiga tahun ke depan yang dicanangkan Prabowo akan diuji langsung oleh kapasitas pengelolaan di lapangan.

Penulis: Rizky Pratama
Editor: Surya Dharma