Internasional

Lufthansa Batalkan 20.000 Penerbangan Musim Panas 2026 Akibat Krisis Pasokan Avtur dari Selat Hormuz

17
×

Lufthansa Batalkan 20.000 Penerbangan Musim Panas 2026 Akibat Krisis Pasokan Avtur dari Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini

Teras News — Maskapai Lufthansa resmi membatalkan 20.000 penerbangan jarak pendek sepanjang musim panas 2026. Keputusan itu dipicu krisis pasokan bahan bakar penerbangan (avtur) yang merembet dari ketegangan di Selat Hormuz.

Selat Hormuz Cekik Pasokan Avtur ke Eropa

Selat Hormuz adalah jalur pelayaran sempit di antara Iran dan Oman yang menjadi rute utama pengiriman minyak mentah dari kawasan Teluk Persia ke seluruh dunia. Gangguan di jalur ini berdampak langsung pada rantai pasokan energi global, termasuk avtur yang mengisi tangki pesawat-pesawat di bandara Eropa.

Ketika pasokan minyak dari kawasan itu terganggu, harga dan ketersediaan avtur di Eropa ikut tertekan. Maskapai-maskapai besar tidak punya banyak pilihan selain memangkas operasi.

Lufthansa Pangkas Ribuan Rute Pendek

Lufthansa, maskapai terbesar Jerman, mengumumkan pembatalan masif tersebut secara resmi. Total 20.000 penerbangan rute pendek akan dihapus dari jadwal musim panas 2026. Ini bukan penundaan sementara — jadwal itu benar-benar dihapus.

Rute jarak pendek menjadi sasaran pertama karena margin keuntungannya paling tipis dan konsumsi avturnya relatif tidak efisien dibanding penerbangan jarak jauh. Dengan harga avtur yang tertekan naik akibat krisis pasokan, mengoperasikan rute pendek justru berpotensi merugi.

Dampak bagi Penumpang

Puluhan ribu penumpang yang sudah memesan tiket untuk musim panas ini berpotensi terdampak. Pembatalan skala sebesar ini tergolong jarang terjadi dalam sejarah operasional maskapai Eropa di luar masa pandemi.

Musim panas adalah puncak perjalanan udara di Eropa. Pembatalan 20.000 penerbangan di periode tersebut akan terasa sangat signifikan, baik bagi penumpang individu maupun industri pariwisata Eropa yang mengandalkan konektivitas udara.

Situasi ini masih terus berkembang seiring ketidakpastian kondisi di Selat Hormuz yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda dalam waktu dekat.

Penulis: Surya Dharma
Editor: Ratna Dewi