Berita

Stok BBM dan Minyak Mentah di Atas Standar Minimum, Bahlil Lapor ke Prabowo soal Ketahanan Energi Nasional

10
×

Stok BBM dan Minyak Mentah di Atas Standar Minimum, Bahlil Lapor ke Prabowo soal Ketahanan Energi Nasional

Sebarkan artikel ini

Teras News — Konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru menyentuh 1,6 hingga 1,7 juta ton. Kesenjangan besar itulah yang mendorong Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ke Istana Merdeka, Jakarta, Senin (27/4).

Dalam pertemuan tersebut, Bahlil memastikan kondisi energi nasional masih terkendali di tengah ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok energi dunia.

Stok BBM dan Crude Oil Melampaui Batas Minimum

Bahlil menyebut kualitas bahan bakar minyak, baik solar maupun bensin, saat ini berada di atas standar minimum nasional. Pasokan minyak mentah untuk kebutuhan kilang dalam negeri juga diklaim aman.

“Dari sisi BBM, baik solar maupun bensin, semua spesifikasi di atas standar minimum nasional. Meski ada dinamika geopolitik, kondisi kita masih stabil,” kata Bahlil usai bertemu Presiden.

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia ke Samudra Hindia dan dilewati sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, menjadi salah satu faktor yang dipantau ketat pemerintah. Bahlil menegaskan pasokan crude untuk kilang-kilang domestik tidak terganggu.

“Menyangkut crude untuk refinery, stok kita juga di atas standar minimum. Jadi relatif tidak ada masalah,” tambahnya.

Impor LPG Masih Besar, CNG Jadi Opsi Alternatif

Angka 8,6 juta ton konsumsi LPG versus 1,7 juta ton produksi lokal mencerminkan betapa besar ketergantungan Indonesia pada impor gas cair. Pemerintah kini mengkaji pengembangan CNG (Compressed Natural Gas, gas alam yang dipadatkan) sebagai alternatif untuk menekan defisit tersebut.

“Salah satu opsi yang sedang dibahas adalah pengembangan CNG sebagai alternatif untuk mendorong kemandirian energi,” jelas Bahlil.

B50 dan Bioetanol E20 Masuk Strategi Jangka Panjang

Pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah untuk mengurangi ketergantungan impor solar dan bensin. Dua program yang disebut Bahlil adalah biodiesel B50, campuran solar dengan 50 persen bahan nabati, dan bioetanol E20, campuran bensin dengan 20 persen etanol dari tanaman.

Keduanya dikombinasikan dengan target optimalisasi lifting migas nasional.

“Kita harus optimalkan lifting, dorong diversifikasi seperti B50, dan kembangkan bioetanol E20. Ini bagian dari strategi menghadapi potensi krisis energi global,” ujar Bahlil.

Program B50 sendiri merupakan lanjutan dari B35 yang sudah berjalan, dengan ambisi meningkatkan porsi bahan bakar nabati secara bertahap. Jika terealisasi, Indonesia bisa menghemat devisa impor solar dalam jumlah signifikan setiap tahunnya.

Realisasi target-target itu kini bergantung pada kecepatan pengembangan infrastruktur kilang, kapasitas produksi minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel, serta percepatan program bioetanol dari komoditas lokal seperti singkong dan tebu.

Penulis: Novia Anggraini
Editor: Arif Budiman